Habibillah, Arif (2026) Analisis Karakteristik Sinyal Petir Awan ke Tanah Negatif pada Rentang Very High Frequency Menggunakan Continuous Wavelet Transform. S1 thesis, Universitas Andalas.
|
Text (Cover dan Abstrak)
01. Cover dan Abstrak.pdf - Published Version Download (249kB) |
|
|
Text (Bab I)
02. Bab I.pdf - Published Version Download (190kB) |
|
|
Text (Bab IV)
03.Bab IV..pdf - Published Version Download (782kB) |
|
|
Text (Daftar Pustaka)
04. Daftar Pustaka.pdf - Published Version Download (174kB) |
|
|
Text (Skripsi Fulltext)
05. Skripsi Fulltext.pdf - Published Version Restricted to Repository staff only Download (2MB) | Request a copy |
Abstract
Petir awan ke tanah bermuatan negatif (negative cloud-to-ground, -CG) merupakan fenomena pelepasan muatan listrik di atmosfer yang memancarkan radiasi elektromagnetik pada rentang Very High Frequency (VHF), berlangsung melalui beberapa fase utama yaitu Preliminary Breakdown (PB), Stepped Leader (SL), Return Stroke (RS), dan Continuing Current (CC), yang masing-masing memiliki karakteristik temporal dan spektral berbeda. Karena sinyal VHF petir bersifat non-stasioner, penelitian ini menggunakan metode Continuous Wavelet Transform (CWT) berbasis wavelet Morlet untuk menganalisis karakteristik waktu–frekuensi, distribusi energi, dan Instantaneous Frequency sinyal VHF pada setiap fase pelepasan muatan, menggunakan antena discone untuk VHF dan slow antenna untuk LF, dengan akuisisi data melalui PicoScope pada sampling rate 250 MS/s dan pengolahan menggunakan MATLAB. Hasil analisis terhadap kejadian petir -CG menunjukkan frekuensi minimum 30,0 MHz, maksimum 119,2 MHz, dan rata-rata 55,8 MHz, dengan karakteristik per-fase: PB pada 30,56–58,88 MHz (mean 37,09 MHz), SL pada 30,28–75,50 MHz (mean 45,27 MHz), RS pada 30–31,70 MHz (mean 30,52 MHz), dan CC pada 31,97–61,62 MHz (mean 44,25 MHz). Sebagai data pelengkap, 9 data Compact Intracloud Discharge (CID) turut dianalisis dan menunjukkan frekuensi minimum konsisten 30,0 MHz, dengan nilai maksimum tertinggi mencapai 115,33 MHz, dan rata-rata 54,64 MHz (data 01-05-2025), tanpa pemisahan fase karena mekanisme pembentukannya yang berbeda dari petir -CG. Hasil ini menunjukkan bahwa CWT berbasis wavelet Morlet mampu mengidentifikasi dinamika spektral setiap fase secara lebih rinci dibandingkan analisis domain waktu maupun frekuensi secara terpisah, sehingga diharapkan mendukung pengembangan sistem deteksi dan analisis petir berbasis pendekatan waktu–frekuensi.
Actions (login required)
![]() |
View Item |

Altmetric
Altmetric