HAFIZ, SHATARI (2026) Hubungan Subfoveal Choroidal Thickness Dan Axial Length Terhadap Best Corrected Visual Acuity Pada Penderita Miopia Tinggi. Spesialis thesis, Universitas Andalas.
|
Text (COVER DAN ABSTRAK)
COVER DAN ABSTRAK.pdf - Published Version Download (931kB) |
|
|
Text (BAB I PENDAHULUAN)
BAB I PENDAHULUAN.pdf - Published Version Download (1MB) |
|
|
Text (BAB AKHIR KESIMPULAN DAN SARAN)
BAB AKHIR KESIMPULAN DAN SARAN.pdf - Published Version Download (292kB) |
|
|
Text (DAFTAR PUSTAKA)
DAFTAR PUSTAKA.pdf - Published Version Download (1MB) |
|
|
Text (FULL TEKS TESIS)
FULL TEKS.pdf - Published Version Restricted to Repository staff only Download (42MB) | Request a copy |
Abstract
Hubungan Subfoveal Choroidal Thickness dan Axial Length terhadap Best Corrected Visual Acuity pada Penderita Miopia Tinggi ABSTRAK Hafiz Shatari, Rinda Wati, Fitratul Ilahi Departemen Ilmu Kesehatan Mata Fakultas Kedokteran Universitas Andalas RSUP Dr. M. Djamil Padang, Indonesia Abstrak Pendahuluan: Miopia tinggi ditandai dengan elongasi aksial progresif dan perubahan struktural pada koroid. Subfoveal choroidal thickness (SFCT) diduga mencerminkan perubahan metabolik dan perfusi yang mempengaruhi fungsi visual. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi hubungan antara SFCT dan axial length (AL) terhadap best corrected visual acuity (BCVA) pada penderita miopia tinggi sebelum terjadinya miopia patologis. Metode: Studi analitik observasional dengan desain cross-sectional dilakukan pada 43 mata dari 25 pasien yang berusia 18–25 tahun dengan spherical equivalent (SE) ≤ −6,00 D. SFCT diukur menggunakan Spectral-Domain OCT dengan mode Enhanced Depth Imaging (EDI-OCT), AL menggunakan IOLMaster 700, dan BCVA menggunakan Snellen chart yang dikonversi ke LogMAR. Analisis statistik menggunakan uji korelasi Spearman dan regresi linear berganda. Hasil: Median usia adalah 22 tahun, dengan 76% perempuan. Median SE adalah −6,75 D. Rerata AL adalah 26,31 ± 1,25 mm. Median SFCT adalah 260,00 μm (142–404 μm), dan median BCVA adalah 0,10 LogMAR (0,00–0,30). Uji korelasi Spearman menunjukkan korelasi negatif signifikan antara SFCT dengan AL (r = −0,385; p = 0,010), SFCT dengan BCVA (r = −0,407; p = 0,007), sedangkan hubungan antara AL dengan BCVA tidak bermakna secara statistik (r = 0,294; p = 0,056). Analisis multivariat menunjukkan bahwa SFCT merupakan prediktor independen yang signifikan terhadap BCVA (β = 0,000; p = 0,024), sedangkan AL tidak (β = 0,011; p = 0,469). vi Kesimpulan: Penipisan SFCT merupakan prediktor independen terhadap penurunan BCVA serta berperan dalam mendeteksi gangguan visual subklinis pada miopia tinggi. Temuan ini menegaskan pentingnya evaluasi koroid secara rutin dalam pemantauan fungsi visual, terutama sebelum berkembang menjadi miopia patologis.
| Item Type: | Thesis (Spesialis) |
|---|---|
| Supervisors: | dr. Rinda Wati, SpM(K); Dr. dr. Fitratul Ilahi, SpM(K) |
| Uncontrolled Keywords: | miopia tinggi; subfoveal choroidal thickness; axial length; best corrected visual acuity; EDI-OCT |
| Subjects: | R Medicine > RE Ophthalmology |
| Divisions: | Fakultas Kedokteran > Sp-1 Ilmu Kesehatan Mata |
| Depositing User: | Sp-1 Kedokteran Kedokteran |
| Date Deposited: | 15 Apr 2026 02:15 |
| Last Modified: | 15 Apr 2026 02:15 |
| URI: | http://scholar.unand.ac.id/id/eprint/522727 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |

["Plugin/Screen/EPrint/Box/Plumx:title" not defined]
["Plugin/Screen/EPrint/Box/Plumx:title" not defined]