Alkulturasi Budaya Dalam Kehidupan Transmigran Di Sitiuang (1977-2010)

Nesa, Ewina (2014) Alkulturasi Budaya Dalam Kehidupan Transmigran Di Sitiuang (1977-2010). Diploma thesis, Universitas Andalas.

[img] Text (Skripsi Full Text)
201503201246th_skripsi.pdf - Published Version
Restricted to Repository staff only

Download (1MB)

Abstract

Skripsi ini berjudul Akulturasi Budaya Dalam Kehidupan Transmigran di Sitiung (1977-2010). Penulisan ini mengkaji tentang akulturasi budaya yang terjadi dalam kehidupan masyarakat transmigrasi Sitiung I yang berada di Kabupaten Dharmasraya tahun 1977-2010. Program transmigrasi merupakan salah satu bentuk kebijakan yang diambil oleh pemerintah dalam mengatasi permasalahan kepadatan penduduk yang tidak merata di Indonesia. Daerah Sitiung I merupakan salah satu daerah yang dipilih untuk dijadikan sebagai pemukiman masyarakat transmigrasi. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian ilmu sejarah yang terdiri dari 4 tahapan yakni, heuristik yaitu mencari dan mengumpulkan sumber, sumber-sumber yang dikumpulkan berupa sumber lisan dan juga tulisan. Tahap selanjutnya kritik yaitu mengkritisi dan menyeleksi semua data yang telah diperoleh. Tahap berikutnya adalah interpretasi yaitu penafsiran sumber. Tahap yang terakhir yaitu Historiografi atau penulisan. Transmigrasi di Sitiung I termasuk ke dalam transmigrasi bedol desa, yaitu transmigrasi yang dilakukan terhadap satu desa atau daerah secara bersama-sama, karena daerah asal terkena pembangunan proyek pemerintah, seperti pembangunan waduk yang luas atau daerah asal merupakan kawasan bencana, sehingga masyarakat desa tersebut harus dipindahkan. Masyarakat transmigrasi yang ditempatkan di Sitiung I terdiri dari masyarakat yang berasal dari di Jawa Tengah. Hal ini dikarenakan daerah asal mereka merupakan daerah terendam atau daerah yang dipersiapkan untuk pembangunan waduk yaitu Waduk Gajah Mungkur. Dilihat dari latar belakang budaya antara masyarakat transmigrasi dengan masyarakat pribumi memiliki perbedaan yang cukup besar, namun dengan adanya rasa saling menghargai dan penerimaan terhadap perbedaan budaya masing-masing, maka ke dua kelompok masyarakat ini berhasil melalui proses adaptasi dan bisa hidup berdampingan dengan baik. Beberapa bentuk akulturasi budaya yang terjadi di Sitiung I dapat dilihat dari bahasa dan juga upacara adat. Dari segi bahasa, kedua kelompok sudah saling mengerti walaupun tidak sepenuhnya bisa berkomunikasi dengan bahasa kelompok lain dalam kehidupan sehari-hari. Masyarakat transmigrasi sudah banyak yang bisa berkomunikasi memakai Bahasa Minang dan Masyarakat Pribumi juga sudah ada yang menguasai Bahasa Jawa.

Item Type: Thesis (Diploma)
Subjects: H Social Sciences > HN Social history and conditions. Social problems. Social reform
Divisions: Fakultas Ilmu Budaya > Ilmu Sejarah
Depositing User: Mr Dian Niko Putra
Date Deposited: 26 Jun 2016 06:22
Last Modified: 26 Jun 2016 06:22
URI: http://scholar.unand.ac.id/id/eprint/11621

Actions (login required)

View Item View Item