Zikhri, M (2026) Resepsi Khalayak Muda Terhadap Benturan Adat Pernikahan Antara Pariaman dan Payakumbuh dalam Film Salisiah Adaik. S1 thesis, Universitas Andalas.
|
Text (01. Cover dan Abstrak)
01. Cover dan Abstrak.pdf - Published Version Download (7MB) |
|
|
Text (02. Bab I)
02. Bab I.pdf - Published Version Download (7MB) |
|
|
Text (03. Bab V)
03. Bab V.pdf - Published Version Download (9MB) |
|
|
Text (04. Daftar Pustaka)
04. Daftar Pustaka.pdf - Published Version Download (7MB) |
|
|
Text (05. Skripsi Fulltext)
05. Skripsi Fulltext.pdf - Published Version Restricted to Repository staff only Download (9MB) | Request a copy |
Abstract
Film Salisiah Adaik (2013) menampilkan representasi benturan adat pernikahan antara Pariaman dan Payakumbuh yang menjadi isu sosiokultural dalam masyarakat Minangkabau. Fenomena ini penting diteliti karena film sebagai media komunikasi massa memiliki kekuatan membentuk persepsi publik dan membingkai ulang kesadaran sosial. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pemaknaan khalayak muda terhadap benturan adat pernikahan dalam film Salisiah Adaik, serta mengungkap bagaimana rasionalitas refleksif mengonstruksi pemaknaan tersebut. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan paradigma kritis dan teori analis resepsi Stuart Hall sebagai pisau analisis. Data diperoleh melalui wawancara mendalam terhadap enam informan dari beragam latar belakang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemaknaan khalayak muda tidak bersifat tunggal, melainkan sangat dinamis dan didominasi oleh posisi negosiasi (negotiated position). Khalayak muda secara umum mengakui realitas sosial benturan adat dan krusialnya peran mamak, namun secara kritis menegosiasikan wacana tersebut dengan menolak dramatisasi ekstrem di dalam film, seperti menggadaikan harta pusaka, serta menuntut penyelesaian yang lebih pragmatis secara ekonomi. Selain itu, terdapat informan pada posisi oposisi (oppositional position) yang secara sadar menolak kesakralan adat ketika berubah menjadi beban transaksional dan eksploitasi kelas sosial, serta posisi dominan-hegemonik (dominant-hegemonic position) yang memvalidasi pesan film secara utuh bahwa kepatuhan pada sistem adat adalah keharusan struktural. Rasionalitas refleksif, yang bekerja melalui detradisionalisasi, refleksivitas institusional, dan tindakan komunikatif, berperan fundamental dalam membongkar kepatuhan buta generasi muda. Pemikiran ini menuntut agar praktik adat terus berdialog dengan rasionalitas ekonomi, transparansi komunikasi, dan kebebasan individu agar tetap relevan tanpa meminggirkan esensi dari pernikahan itu sendiri.
| Item Type: | Thesis (S1) |
|---|---|
| Supervisors: | Muhammad Thaufan Arifuddin, M.A ; Dr. M.A. Dalmenda, M.Si |
| Uncontrolled Keywords: | Analisis Resepsi; Benturan Adat; Film Salisiah Adaik; Khalayak Muda |
| Subjects: | H Social Sciences > H Social Sciences (General) H Social Sciences > HE Transportation and Communications |
| Divisions: | Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik > S1 Ilmu Komunikasi |
| Depositing User: | S1 Ilmu Komunikasi |
| Date Deposited: | 29 Aug 2026 02:50 |
| Last Modified: | 29 Aug 2026 02:50 |
| URI: | http://scholar.unand.ac.id/id/eprint/531187 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |

Altmetric
Altmetric