TRADISI MEPAHUKH DALAM UPACARA PERKAWINAN SUKU BANGSA ALAS (Studi Kasus : Desa Kuta Tinggi, Kota Kutacane, Kabupaten Aceh Tenggara, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam)

FITRI, UTARI (2013) TRADISI MEPAHUKH DALAM UPACARA PERKAWINAN SUKU BANGSA ALAS (Studi Kasus : Desa Kuta Tinggi, Kota Kutacane, Kabupaten Aceh Tenggara, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam). Diploma thesis, Universitas Andalas.

[img] Text (Fulltext)
1887.pdf - Published Version
Restricted to Repository staff only

Download (946kB)

Abstract

Dalam setiap kehidupan manusia selalu mengalami masa peralihan, semenjak ia dilahirkan sampai ia tutup usia. Salah satu masa peralihan yang dinanti adalah saat ia akan melangsungkan upacara perkawinan. Perkawinan merupakan sebuah upacara adat yang memiliki tradisi tersendiri dalam setiap pelaksanaannya, begitu juga pada upacara perkawinan masyarakat Alas. Masyarakat Alas mengenal adanya tradisi mepahukh yang dianggap penting dalam pelaksanaan upacara perkawinannya. Permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana sebenarnya proses dan apa pentingnya tradisi mepahukh bagi masyarakat Alas. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang bersifat deskriptif dengan teknik observasi, wawancara dan studi kepustakaan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari, memahami dan memberikan gambaran penjabaran tentang tradisi mepahukh dalam upacara perkawinan masyarakat Alas. Informan dalam penelitian ini terdiri dari informan kunci dan informan biasa. Konsep yang digunakan dalam penelitian ini adalah tentang kebudayaan yang memiliki tiga wujud, yaitu wujud ideal dari kebudayaan, serangkaian aktifitas manusia dalam masyarakat dan hasil karya manusia dalam rangkaian aktifitas tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi mepahukh mempunyai tata cara yang telah ditetapkan oleh adat dalam proses pelaksanaannya. Pelaksanaan diawali dengan berkumpulnya para pemudi dan pemuda dalam satu rumah keluarga pengantin laki-laki, kemudian tradisi ini mulai dilaksanakan pada pukul 23.00 sampai dengan 04.30 WIB pada malam hari setelah rangkaian upacara perkawinan dilaksanakan.Pelaksanaan tradisi mepahukh ini hanya melibatkan para pemuda dari kampung pengantin laki-laki dan para pemudi dari kampung perempuan itu saja.Pentingnya tradisi ini dilakukan bukan hanya sekedar melihat tentang nilai adat dan agama yang mengikatnya, melainkan sebagai wadah untuk pendekatan (pencarian jodoh) bagi seorang Alas agar kawin atau menikah dengan seorang Alas lainnya yang berasal dari mergo yang berbeda. Melalui tradisi inilah adat masyarakat Alas akan tetap terjaga, karena anak yang terlahir nantinya dari hasil perkawinan (seorang pemuda dengan seorang pemudi dari mergo yang berbeda yang memiliki keseriusan untuk menikah setelah melaksanakan mepahukh) tersebut akan menjadi cikal bakal penerus kalak alas atau orang alas.

Item Type: Thesis (Diploma)
Subjects: G Geography. Anthropology. Recreation > GN Anthropology
Divisions: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik > Antropologi
Depositing User: ms Meiriza Paramita
Date Deposited: 16 May 2016 10:21
Last Modified: 16 May 2016 10:21
URI: http://scholar.unand.ac.id/id/eprint/8758

Actions (login required)

View Item View Item