Perubahan Musiman Curah Hujan Harian di Kalimantan dan Kemungkinan Mekanismenya

Lasmi, Nury Kartika Putri (2026) Perubahan Musiman Curah Hujan Harian di Kalimantan dan Kemungkinan Mekanismenya. S1 thesis, Universitas Andalas.

[img] Text (01 Cover dan Abstrak)
01 Cover dan Abstrak.pdf - Published Version

Download (293kB)
[img] Text (02 Bab I)
02 Bab I.pdf - Published Version

Download (200kB)
[img] Text (03 Bab V)
03 Bab V.pdf - Published Version

Download (195kB)
[img] Text
04 Daftar Pustaka.pdf - Published Version

Download (162kB)
[img] Text (05 Skripsi Fulltext)
05 Skripsi Fulltext.pdf - Published Version
Restricted to Repository staff only

Download (1MB) | Request a copy

Abstract

Telah dilakukan penelitian mengenai perubahan musiman karakteristik curah hujan harian di Kalimantan serta kemungkinan mekanisme atmosfer yang memengaruhinya menggunakan data satelit Integrated Multi-satellitE Retrievals for GPM (IMERG) Final Run V07 dan data reanalisis ERA5 selama periode 2000-2024. Penelitian ini difokuskan untuk melihat sebaran spasial dan temporal dari parameter hujan musiman, yaitu jumlah curah hujan (PA), frekuensi hujan (PF), dan intensitas hujan (PI), sekaligus mengamati pola siklus harian melalui rata-rata harian, variabilitas diurnal, serta pergerakan hujan yang ditelaah dari penampang lintang dan diagram Hovmöller. Selain itu, juga dikaji bagaimana mekanisme atmosfer bisa mempengaruhi perubahan tersebut dengan menganalisis anomali curah hujan dan konvergensi angin di lapisan bawah. Dari hasil analisis, pola curah hujan musiman di Kalimantan ternyata dipengaruhi oleh interaksi antara sistem monsun Asia-Australia, posisi Intertropical Convergence Zone (ITCZ), kondisi topografi, serta proses konveksi lokal. Pada musim Desember-Januari-Februari (DJF), Precipitation Amount (PA) dan Precipitation Frequency (PF) mencapai titik tertinggi, kemudian kembali meningkat pada musim September-Oktober-November (SON), sementara pada musim Juni-Juli-Agustus (JJA) justru terjadi penyusutan wilayah hujan akibat dominasi udara kering yang dibawa oleh monsun Australia. Untuk Precipitation Intensity (PI) sendiri, variasi spasialnya tergolong lebih kecil dibandingkan PA dan PF. Dari sisi siklus diurnal, terlihat bahwa hujan pada umumnya muncul pada sore hari di area pedalaman dan pegunungan, lalu menjalar menuju wilayah pesisir pada malam hingga dini hari. Analisis anomali curah hujan dan konvergensi angin juga menunjukkan bahwa terbentuknya daerah konvergensi di lapisan bawah memegang peranan penting dalam mengatur perkembangan dan pergerakan sistem hujan di Kalimantan. Keseluruhannya, temuan ini mengindikasikan bahwa perubahan karakteristik hujan musiman di Kalimantan tidak lepas dari interaksi antara proses atmosfer skala regional dan lokal, sehingga diharapkan dapat memberi pemahaman yang lebih mendalam mengenai mekanisme pembentukan hujan di daerah tersebut. Kata Kunci: Curah hujan musiman, ERA5, IMERG Final V07, Kalimantan, konvergensi angin, siklus diurnal.

Item Type: Thesis (S1)
Supervisors: Prof.Dr. techn. Marzuki, M.Sc.Eng ; Mutya Vonnisa, M.Sc
Uncontrolled Keywords: Curah hujan musiman; ERA5; IMERG Final V07; Kalimantan; konvergensi angin; siklus diurnal.
Subjects: Q Science > QC Physics
Divisions: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam > S1 Fisika
Depositing User: S1 Fisika Fisika
Date Deposited: 28 Aug 2026 03:12
Last Modified: 28 Aug 2026 03:12
URI: http://scholar.unand.ac.id/id/eprint/533386

Actions (login required)

View Item View Item