PERAN ASOSIASI PETANI KARET KUANTAN SINGINGI (APKARKUSI) SEBAGAI WADAH PEMBERDAYAAN UNTUK PENGUATAN POSISI TAWAR PETANI DALAM TATA NIAGA KARET DI KABUPATEN KUANTAN SINGINGI

Meli, Sasmi (2026) PERAN ASOSIASI PETANI KARET KUANTAN SINGINGI (APKARKUSI) SEBAGAI WADAH PEMBERDAYAAN UNTUK PENGUATAN POSISI TAWAR PETANI DALAM TATA NIAGA KARET DI KABUPATEN KUANTAN SINGINGI. S3 thesis, Universitas Andalas.

[img] Text (01. Cover & Abstrak)
01. Cover & Abstrak.pdf - Published Version

Download (174kB)
[img] Text (02. BAB I)
02. BAB I.pdf - Published Version

Download (238kB)
[img] Text (03. BAB IV)
03. BAB IV.pdf - Published Version

Download (139kB)
[img] Text (04. Daftar Pustaka)
04. Daftar Pustaka.pdf - Published Version

Download (342kB)
[img] Text (05. Disertasi Fulltext)
05. Disertasi Fulltext.pdf - Published Version
Restricted to Repository staff only

Download (8MB) | Request a copy

Abstract

Karet merupakan komoditas pertanian penting di Kabupaten Kuantan Singingi, dan kabupaten ini memiliki perkebunan karet terluas di Provinsi Riau. Perkebunan karet di Kabupaten Kuantan Singingi dilakukan dengan pola tradisional. Rendahnya kapasitas petani, infrastruktur penunjang yang terbatas, rendahnya teknologi, serta lemahnya akses terhadap modal,teknologi, dan informasi pasar menyebabkan posisi tawar petani lemah. Sebagaimana diamanahkan dalam Undang-Undang Republik Indonesia No. 19 Tahun 2013 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani, dipandang perlu adanya kelembagaan, salah satunya asosiasi. Keberadaan asosiasi komoditas karet, bila berperan dengan baik, diharapkan akan berimplikasi kepada menguatnya posisi tawar petani-petani karet. Penelitian bertujuan untuk: 1) Mengetahui peran APKARKUSI sebagai wadah pemberdayaan untuk meningkatkan posisi tawar petani karet di Kabupaten Kuantan Singingi; 2) Menganalisis kepuasan anggota terhadap peran yang dilakukan APKARKUSI sebagai proses pemberdayaan petani untuk meningkatkan posisi tawar mereka dalam tata niaga karet di Kabupaten Kuantan Singingi; 3) Mengembangkan model konseptual peran APKARKUSI untuk penguatan posisi tawar petani dalam tata niaga karet di Kabupaten Kuantan Singingi. Penelitian ini menggunakan metode campuran (mixed methods) dengan model concurrent mixed methods, yaitu menggabungkan data kualitatif dan kuantitatif secara bersamaan. Unit analisis penelitian ini adalah anggota APKARKUSI. Data kualitatif dikumpulkan melalui wawancara mendalam (in-depth interview) terhadap informan dan observasi. Informan adalah pengurus APKARKUSI dan pengurus Poktan, dan pengurus Gapoktan yang menjadi anggota asosiasi. Untuk mendapatkan data kuantitatif, dilakukan survei terhadap anggota dengan populasi sebanyak 19 unit poktan dan gapoktan. Dari total populasi ditetapkan 10 (52,62%) dari total populasi) Poktan dan Gapoktan sebagai sampel. Setiap sampel yang dijadikan responden adalah pengurus kelompok/gapoktan yang terpilih, masing-masing 3 orang. Dengan demikian, terdapat 30 orang responden yang memberikan jawaban terhadap pertanyaan yang disusun dalam bentuk daftar pertanyaan (kuesioner). Namun, data yang didapatkan dari 3 (orang) responden dirata-ratakan, sehingga hanya ada 10 data untuk 10 sampel penelitian. Sebelum digunakan, kuesioner telah diuji validitas dan reliabilitas dengan koefisien alfa Cronbach 0.85. Analisis data kualitatif dilakukan dengan merujuk kepada pendapat Huberman M dan Saldana (2024). Sedangkan data kuantitatif dianalisis analisis statistik deskriptif berupa rata-rata dan persentase. Untuk mengetahui penilaian anggota terhadap kinerja APKARKUSI, dilakukan analisis Importance-Performance Analysis (IPA). Selanjutnya, untuk mengetahui kepuasan anggota terhadap apa yang dilakukan APKARKUSI, dilakukan Analisis Customer Satisfaction Indexs (CSI). Terdapat 5 (lima) peran yang dilakukan APKARKUSI dalam pemberdayaan petani yaitu: (1) peran assosiani sebagai edukator; (2) peran asosiasi sebagai diseminator; (3) peran asosiasi sebagai fasilitator; (4) peran asosiasi sebagai advokator dan (5) peran asosiasi melakukan monitoring dan evaluasi terhadap kegiatan anggota. Peran ini diharapkan dapat meningkatkan posisi tawar petani karet di Kuantan Singingi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penilaian anggota terhadap peran APKARKUSI sebagai educator, diseminator, dan monitoring dan evaluasi kegiatan anggota sudah sangat baik. Sedangkan peran APKARKUSI sebagai; fasilitator dan advokator dinilai anggota baik. Selanjutnya, hasil analisis Importance-Performance Analysis (IPA) dari 25 (dua puluh lima) atribut dalam 5 peran yang dilakukan APKARKUSI menunjukkan bahwa masih terdapat 4 (empat) atribut yang menurut anggota penting, namun kinerja APKARKUSI dalam melakukan atribut tersebut belum baik. Adapun peran yang dianggap penting, namun kinerja belum baik tersebut adalah: memfasilitasi anggota untuk mendapatkan subsidi bibit, pupuk, dan pinjaman modal; memberi masukan kepada pemerintah/Daerah tentang kebijakan untuk melindungi lahan karet agar tidak dikonversi menjadi kebun kelapa sawit; meyakinkan pemerintah agar ada program subsidi harga untuk petani; serta memberi masukan kepada pemerintah agar pada RTRW dicantumkan lahan karet sebagai kawasan pelestarian lingkungan. Sebanyak 13 (tiga belas) atribut menurut anggota penting dan kinerja APKARKUSI dalam melakukan peran tersebut sudah baik, ada 4 (empat) atribut menurut anggota tidak penting dan kinerja juga tidak baik, dan ada 4 (empat) atribut menurut anggota tidak penting namun kinerja APKARKUSI sudah baik. Hasil analisis Indeks Kepuasan Pelanggan (CSI) menunjukkan bahwa 79,432% anggota sudah puas terhadap layanan yang diberikan oleh APKARKUSI. Penelitian ini merupakan pengembangan model konseptual peran asosiasi petani karet daerah sebagai aktor utama dalam pemberdayaan petani melalui penguatan posisi tawar melalui tata niaga karet berbasis lelang kolektif. Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap pengayaan teori Mosher. Teori yang dihasilkan adalah pendekatan pembangunan pertanian Mosher yang menempatkan pendidikan dan kegiatan bersama petani sebagai faktor pelancar, namun belum secara eksplisit menyatakan aktor yang akan berperan dalam melaksanakan faktor pelancar tersebut. Penelitian ini menegaskan bahwa pemberdayaan petani melalui penguatan kelembagaan merupakan syarat penting dalam pembangunan pertanian, karena keberhasilan pasar, adopsi teknologi, dan efisiensi usaha tani sangat ditentukan oleh tingkat keberdayaan petani secara kolektif. Dengan demikian, penelitian ini memperkaya teori Mosher dengan menempatkan peran kelembagaan dalam proses pemberdayaan petani.

Item Type: Thesis (S3)
Supervisors: Prof. Dr. Ir. Asdi Agustar, M.Sc; Dr. Ira Wahyuni Syarfi, M.S; Hasnah, SP, DipAgEc, M.Ec, PhD
Uncontrolled Keywords: Asosiasi komoditas; Tata niaga; Pemberdayaan
Subjects: H Social Sciences > H Social Sciences (General)
S Agriculture > S Agriculture (General)
Divisions: Fakultas Pertanian > S3 Ilmu Pertanian
Depositing User: S3 Pertanian Pertanian
Date Deposited: 24 Apr 2026 07:57
Last Modified: 24 Apr 2026 07:57
URI: http://scholar.unand.ac.id/id/eprint/525909

Actions (login required)

View Item View Item