PEKERJA ANAK DI PERKEBUNAN KELAPA SAWIT (Kasus Perkebunan Kelapa Sawit PTP Nusantara VI OphirKabupaten Pasaman Barat

Novem, Helma (2012) PEKERJA ANAK DI PERKEBUNAN KELAPA SAWIT (Kasus Perkebunan Kelapa Sawit PTP Nusantara VI OphirKabupaten Pasaman Barat. S1 thesis, Universitas Andalas.

[img] Text (Skripsi Full Text)
OK S1 Fisip 2012 Helma 0810812047.pdf - Published Version
Restricted to Repository staff only

Download (8MB)

Abstract

Penelitian ini mengkaji tentang pekerja anak di perkebunan kelapa sawit PTP Nusantara VI Ophir. Penelitian ini melihat mengapa mandor mempekerjakan anak di perkebunan kelapa sawit, serta melihat situasi, kondisi, dan dampak pekerja anak di perkebunan kelapa sawit PTP Nusantara VI Ophir. Studi ini dilakukan pada masyarakat Pasaman Barat, tepatnya pada masyarakat Jorong Ophir, Kecamatan Luhak Nan Duo. Di Jorong Ophir tersebut berdiri salah satu perkebunan Nusantara, yaitu Perkebunan Kelapa Sawit PTP Nusantara VI Ophir. Di perkebunan tersebut terdapat anak-anak yang menjadi pekerja sebagai pekerja panen dan bongkar muat. Pendekatan yang dipakai pada penelitian ini adalah kualitatif dengan tipe deskriptif. Penelitian ini menggunakan paradigma Perilaku Sosial dengan Teori Exchange oleh George C. Homans, yang mana asumsi dari teori ini adalah orang terlibat dalam perilaku untuk memperoleh ganjaran atau menghindari hukuman. Ganjaran yang diinginkan dapat berupa ganjaran ekonomis dan non-ekonomis. Dari hasil penelitian, terdapat lima alasan mandor mempekerjakan anak. Kelima alasan tersebut juga dihubungkan dengan lima proposisi, yaitu: 1) Proposisi Sukses, mandor mempekerjakan anak karena ingin memperoleh ganjaran ekonomi, karena anak merupakan pekerja yang patuh dan dapat dibayar dengan upah yang rendah. 2) Proposisi Stimulus, tindakan masa lalu mandor merupakan stimulus untuk melakukan tindakannya yang sekarang. Jika pada masa lalu mandor mempekerjakan anak dan mendapatkan keuntungan ekonomi, maka mandor akan terus melakukan tindakan tersebut di masa sekarang. 3) Proposisi Nilai, mandor mempekerjakan anak yang berasal dari keluarga miskin karena ingin dianggap sebagai orang yang penolong. Begitu juga dengan mempekerjakan anak yang mempunyai hubungan keluarga dengan mandor, mandor ingin dianggap sebagai orang yang baik. Selain itu, mandor juga mempekerjakan anak-anak yang sudah drop-out sekolah karena ingin dianggap sebagai orang yang berjasa karena telah membantu anak-anak dengan memberikan pekerjaan. 4) Proposisi Deprivasi-Satiasi, adanya kejenuhan terhadap ganjaran yang didapatkan. Jika mandor merasa jenuh dengan ganjaran yang ia dapatkan sekarang, maka ia cenderung mencari tindakan lain dengan tujuan mendapatkan ganjaran yang lain. 5) Proposisi Restu-Agresi, pada proposisi ini aktor akan lebih bersikap agresif. Aktor akan marah jika ganjaran yang ia dapatkan tidak sebesar ganjaran yang ia inginkan, sebaliknya aktor akan senang jika ganjaran yang ia dapatkan lebih besar dari ganjaran yang ia inginkan.

Item Type: Thesis (S1)
Supervisors: Dra. Mira Elfma, M.Si.; Dr. Elfitra, M.S1.
Subjects: J Political Science > JA Political science (General)
Divisions: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik > S1 Sosiologi
Depositing User: Pustakawan Marne Dardanellen
Date Deposited: 25 Mar 2026 22:50
Last Modified: 25 Mar 2026 22:50
URI: http://scholar.unand.ac.id/id/eprint/521786

Actions (login required)

View Item View Item