JULITA, INTAN (2012) ASPEK FARMAKOKINETIK KLINIK BEBERAPA OBAT BERPOTENSl HEPATOTOKSIK PADA PASIEN RAWAT INAP DI BANGSAL PARU RSUP. DR. M. DJAMIL PADANG PERIODE OKTOBER 2011 - JANUARl 2012. S2 thesis, Universitas Andalas.
|
Text (Thesis fulltext)
OK S2 PascaSarjana Farmasi 2012 Intan Julita 0921213022.pdf - Published Version Restricted to Repository staff only Download (16MB) |
Abstract
Hati merupakan pusat metabolisme tubuh dan memiliki sistem enzim mikrosom untuk biotransformasi obat menjadi metabolit yang lebih mudah dikeluarkan. Obat-obatan yang dapat merusak hati disebut drug-induced liver injury (DILI) dengan efek hepatotoksik. Sekitar 20–40% kegagalan hati disebabkan oleh obat. Oleh karena itu, pemberian obat yang dimetabolisme di hati memerlukan perhatian khusus, terutama pada pasien rawat inap. Tujuan Penelitian Mengetahui gambaran farmakokinetik klinik penggunaan obat berpotensi hepatotoksik pada pasien rawat inap di bangsal paru RSUP DR. M. Djamil Padang dan dampaknya terhadap fungsi hati. Metodologi Desain: Analisis deskriptif prospektif Populasi: 81 pasien rawat inap di bangsal paru RSUP DR. M. Djamil Padang (Oktober 2011 – Januari 2012) Data: Rekam medik (nama, umur, jenis kelamin, obat, kadar SGPT/ALT, SGOT, ALP, albumin, bilirubin, waktu protrombin, asites, ensefalopati hepatika) dan observasi langsung pasien Obat berpotensi hepatotoksik yang diamati: Parasetamol, OAT (rifampisin, isoniazid, pirazinamid, ethambutol), ranitidin, lansoprazol, tramadol, kortikosteroid (metilprednisolon, deksametason, prednison), aminofilin Hasil Penelitian Penilaian fungsi hati: Child Pugh Score (rentang 7–9, kerusakan hati sedang): 14 pasien (17%) → membutuhkan pengurangan dosis 25% 67 pasien (83%) data tidak lengkap Hepatotoksisitas berdasarkan SGPT/ALT: Grade IV: 1 pasien (1%) Grade III: 1 pasien (1%) Grade II: 1 pasien (1%) Grade I: 14 pasien (17%) Tidak mengalami hepatotoksisitas: 53 pasien (66%) Data tidak tersedia: 11 pasien (14%) Gejala hepatotoksisitas: Subjektif: Lemah, mual/muntah, penurunan berat badan, perut tidak nyaman, demam, kebingungan, penurunan nafsu makan, rentan terhadap pendarahan Objektif: Peningkatan SGPT/SGOT, peningkatan ALP, penurunan albumin, penurunan protein total, peningkatan bilirubin, peningkatan waktu protrombin Perhitungan dosis aminofilin: Intravena (loading dose): 10% berlebih, 76% kurang, 14% tepat Intravena (maintenance dose): 33% berlebih, 67% kurang, 0% tepat Oral: 25% berlebih, 50% kurang, 25% tepat Berdasarkan volume distribusi dan konsentrasi steady state (Css), sebagian besar dosis tidak tepat Efektivitas terapi: Efek samping umumnya ringan dan dapat ditoleransi Interaksi obat terjadi pada 65% pasien, sebagian besar tidak berpengaruh signifikan secara klinis
| Item Type: | Thesis (S2) |
|---|---|
| Supervisors: | Prof. Dr. Henny Lucida. Apt; Dra Dcswiaar Darwia. Apt So. FRS |
| Subjects: | R Medicine > R Medicine (General) R Medicine > RS Pharmacy and materia medica |
| Divisions: | Fakultas Farmasi > S2 Farmasi |
| Depositing User: | Mrs Leni Yurnelis |
| Date Deposited: | 17 Mar 2026 02:18 |
| Last Modified: | 17 Mar 2026 02:18 |
| URI: | http://scholar.unand.ac.id/id/eprint/521683 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |

Altmetric
Altmetric