Feri Hikto, Dede (2012) Kehidupan Keluarga Keturunan Orang Rantai Di Sawahlunto (1918 – 2011): Sebuah Sejarah Keluarga. S1 thesis, Universitas Andalas.
|
Text (Full Text)
OK S1 Ilmu Budaya Ilmu sejarah 2011 Dede Hikto Feri 06181016.pdf - Published Version Download (5MB) |
Abstract
Skripsi Ini Berjudul "Kehidupan Keluarga Keturunan Orang Rantai Di Sawahlunto (1918-2011): Sebuah Sejarah Keluarga". Penulisan Ini Berupaya Untuk Menelusuri Bagaimana Kedatangan Orang Rantai Di Sawahlunto Dan Bagaimana Mereka Menjalani Kehidupan Pada Masa Kolonial Belanda Serta Bagaimana Keturunannya Menjalani Kehidupan Dari Generasi Ke Generasi Sampai Sekarang. Metode Yang Digunakan Dalam Penulisan Ini Adalah Metode Sejarah Yang Terdiri Dari Empat Tahap, Yaitu Heuristik, Kritik, Interpretasi, Dan Historiografi. Tahap Awal Adalah Mengumpulkan Sumber-Sumber Yang Berhubungan Dengan Penelitian. Pada Tahap Pengumpulan Sumber Dilakukan Melalui Studi Pustaka Dan Lapangan Dengan Metode Sejarah Lisan Dan Wawancara. Penulisan Diarahkan Dalam Bentuk Deskriptif. Setelah Itu Diperoleh Sumber-Sumber Yang Dapat Diklasifikasikan Menjadi Sumber Primer Dan Sumber Sekunder. Kemudian Data Yang Diperoleh Dilanjutkan Kepada Tahapan Kritik. Tahapan Yang Terakhir Adalah Historiografi Atau Penulisan. Kajian Mengenai Kehidupan Keluarga Keturunan Orang Rantai Merupakan Sebualı Kajian Sejarah Keluarga, Secara Sederhana Sejarah Keluarga Diartikan Sebagai Kajian Deskriptif Analisis Peristiwa Masa Lalu Terhadap Sebuah Keluarga Sebagai Suatu Lembaga Sosial Dalam Tatanan Kehidupan. Melalui Kajian Ini Akan Melahirkan Rumusan Masalah, Bagaimana Sejarah Orang Ranti Di Sawahlunto, Bagaimana Perkembangan Perusahaan Tambang Batubara Ombilin Masa Kolonial Belanda, Dan Bagaimana Kehidupan Keluarga Keturunan Oran Rantai Menjalani Kehidupan Dari Generasi Ke Generasi Hingga Sekarang. Penelitian Ini Mendapatkan Kesimpulan Bahwa Kedatangan Orang Rantai Ke Sawahlunto Tidak Terlepas Dari Kebijakan Pemerintahan Kolonial Belanda, Yang Mana Pada Saat Itu Belanda Ingin Meraup Keuntungan Yang Lebih Dari Hasil Bumi Sawahlunto Dan Mengeluarkan Sedikit Upah. Untuk Itu Belanda Mengirim Para Tahanan Yang Ada Diberbagai Penjara Di Luar Sumatera Dan Dijadikan Kuli Paksa (Orang Rantai). Setelah Bekerja Berpuluh-Puluh Tahun Sebagai Kuli Paksa Di Sawahlunto Mereka Memutuskan Untuk Menetap Di Sawahlunto Sampai Memiliki Keturunan. Suatu Perjalanan Hidup Yang Tidak Mudah Bagi Orang Rantai Untuk Bertahan Hidup, Ditambah Lagi Dengan Respon Negatif Dari Masyarakat Umum Dengan Status "Orang Rantai Yang Mereka Sandang. Saat Ini Hanya Tiga Keluarga Orang Rantai Yang Masih Bertahan Di Sawahlunto, Yaitu Keluarga Ajum, Keluarga Tukijan, Dan Keluarga Kamditega.
| Item Type: | Thesis (S1) |
|---|---|
| Supervisors: | Dr.Lindayanti,M.Hum Yenny Naray, S.S,M.A |
| Subjects: | P Language and Literature > P Philology. Linguistics |
| Divisions: | Fakultas Ilmu Budaya > S1 Sastra Jepang |
| Depositing User: | Suci Rahmadani PKL UIN IB 2026 |
| Date Deposited: | 30 Jan 2026 04:50 |
| Last Modified: | 30 Jan 2026 04:50 |
| URI: | http://scholar.unand.ac.id/id/eprint/520197 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |

Altmetric
Altmetric