Meiyenti, Sri (2026) EFEKTIFITASIMPLEMENTASI KEBIJAKAN PENCEGAHAN STUNTING DI SUMATERABARAT: PERSPEKTIFBUDAYA. S3 thesis, Universitas Andalas.
|
Text
01. Cover & Abstrak.pdf - Published Version Download (292kB) |
|
|
Text
02. BAB I.pdf - Published Version Download (504kB) |
|
|
Text
03. BAB V.pdf - Published Version Download (432kB) |
|
|
Text
04. Daftar Pustaka.pdf - Published Version Download (317kB) |
|
|
Text
05. Disertasi Fulltext.pdf - Published Version Restricted to Repository staff only Download (3MB) | Request a copy |
Abstract
Stunting pada masa kanak-kanak merupakan salah satu hambatan terbesar dalam pembangunan manusia, yang secara global memengaruhi 162 juta anak di bawah usia 5 tahun. Indonesia termasuk negara yang paling terdampak oleh stunting, dan menempatkannya dalam lima besar di dunia. Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah Indonesia untuk penanganan stunting, yaitu diterbitkan beberapa kebijakan dari tingkat nasional sampai daerah. Dilihat dari isi kebijakan tentang stunting sudah on the track karena program kebijakan pencegahan stunting sudah menyentuh pada inti penyebab stunting yang dibahas oleh beberapa literatur. Montjoy & O’Toole (1979) telah mendokumentasikan banyak penelitian kesulitan mengubah kebijakan publik menjadi tindakan yang tepat. Masalahnya muncul pada saat implementasi yang menyebabkan belum mencapai seperti yang diharapkan. Penelitian ini mencoba memfokuskan pada pelaksanaan implementasi kebijakan pencegahan stunting dengan menjawab tiga pertanyaan berikut: 1) Bagaimana pelaksanaan implementasi kebijakan pencegahan stunting oleh petugas garis depan di Sumatera Barat. 2) Bagaimana penerimaan sasaran implementasi kebijakan pencegahan stunting terhadap implementasi program kebijakan tersebut. 3) Apakah budaya pelaksana implementasi kebijakan pencegahan stunting dan budaya masyarakat sasaran kebijakan memengaruhi efektifitas kebijakan pencegahan stunting. Penelitian ini menggabungkan dua metode yaitu metode kualitatif dan metode kuantitatif. Dengan menggunakan model sekuensial eksploratori yaitu metode kualitatif untuk memahami fenomena yang lebih spesifik dan metode kuantitatif untuk menggeneralisasi temuan ke populasi lebih luas. Metode kualitatif menggunakan pendekatan etnografi dengan teknik pengumpulan data observasi partisipasi dan wawancara mendalam. Pada metode kuantitatif data yang diperoleh melalui penyebaran kuesioner pada responden pelaksana implementasi dan sasaran implementasi yang dianalisis menggunakan uji Regresi Logistik Biner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertama, pelaksanaan implementasi kebijakan pencegahan stunting telah terlaksana secara administratif dan prosedural. Program pencegahan stunting telah berjalan sesuai rencana. Program intervensi gizi spesifik rutin dilaksanakan setiap bulannya di Posyandu. Bidan desa, kader Posyandu dan kader lainnya telah menjalankan tugasnya masing-masing sesuai tupoksinya. Masing-masing pelaksana implementasi sudah mengetahui tugasnya. Kegiatan di posyandu itu di antaranya adalah: pemberian tablet tambah darah tambah darah kepada ibu hamil, imunisasi dasar bagi baduta dan balita, pemberian vitamin A dan obat cacing, penimbangan berat dan pengukuran tinggi anak, penuyuluhan tentang gizi, kesehatan dasar, dan pelaksanaan kelas ibu hamil. Namun, data lapangan menunjukkan bahwa keberhasilan administratif tersebut tidak sejalan dengan perubahan perilaku keluarga dalam pemenuhan kebutuhan gizi seimbang. Kegiatan Posyandu memperlihatkan bahwa isu gizi telah menjadi bagian dari rutinitas pelayanan, namun belum sepenuhnya diterima sebagai kebutuhan yang bermakna oleh ibu hamil dan orang tua baduta. Sejak tahap persiapan hingga akhir pelayanan, fokus utama kegiatan lebih tertuju pada kelancaran alur administrasi dan tindakan medis, sementara komunikasi mengenai gizi berlangsung singkat, terfragmentasi, dan sering kali berada di posisi sekunder. Hal ini menandakan adanya jarak antara keberhasilan administratif dan keberhasilan substantif program. viii Kedua, penerimaan sasaran terhadap program pencegahan stunting dipengaruhi oleh pengetahuan dan cara petugas menyampaikan program. Penerimaan orang tua terhadap isu gizi tidak hanya terbentuk di ruang posyandu, melainkan berakar pada pengalaman hidup sehari-hari, kebiasaan keluarga, serta cara mereka memahami kesehatan dan pertumbuhan anak. Posyandu menjadi titik temu sementara antara orang tua dan pesan gizi formal, namun makna akhir dari pesan tersebut ditentukan di luar ruang pelayanan, terutama di rumah dan dalam relasi keluarga. Dalam kehidupan sehari-hari, kesehatan anak dipahami secara fungsional dan kasat mata. Anak dianggap sehat apabila anak tidak rewel, mau bermain, dan tidak menunjukkan tanda fisik yang mengkhawatirkan. Selama indikator ini terpenuhi, orang tua merasa tidak ada masalah yang mendesak untuk diperbaiki. Konsep gizi seperti kecukupan protein, keseimbangan zat gizi, dan masalah pertumbuhan—tidak menjadi prioritas karena dampaknya tidak langsung terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Penerimaan terhadap indikator gizi juga bersifat selektif. Berat badan anak diterima sebagai ukuran kesehatan yang relevan karena hasilnya konkret dan mudah dipahami. Sebaliknya, panjang badan dan grafik pertumbuhan tidak memiliki makna kongkrit sehingga pesan ini diabaikan. Pertumbuhan anak tidak sesuai umurnya atau anak bertubuh pendek tidak ada hubungan hubungannya dengan gizi. Anak pendek dipahami hal yang biasa karena keturunan. Resistensi terhadap isu gizi muncul secara halus dan tidak konfrontatif. Orang tua jarang menolak secara langsung, tetapi menyampaikan keberatan melalui alasan pengalaman pribadi, kebiasaan keluarga, dan perbandingan dengan generasi sebelumnya. Dalam konteks ini, resistensi bukan semata ketidaktahuan, melainkan bentuk negosiasi nilai antara pengetahuan medis dan pengalaman hidup sehar-hari. Secara keseluruhan, penerimaan orang tua terhadap isu gizi dapat dipahami sebagai penerimaan yang bersifat pragmatis dan selektif. Orang tua menerima aspek pelayanan yang dirasakan langsung manfaatnya dan menegosiasikan atau mengabaikan pesan gizi yang dianggap tidak relevan, merepotkan, atau bertentangan dengan pengalaman mereka. Dalam konteks ini, resistensi nilai bukanlah penolakan terbuka, melainkan cara orang tua mempertahankan otonomi dalam pengasuhan anak. Posyandu, dengan demikian, lebih berfungsi sebagai ruang layanan rutin daripada sebagai arena transformasi pemahaman gizi. Ketiga, budaya pelaksana berbeda dengan budaya penerima program. Penelitian ini menegaskan adanya kesenjangan makna budaya antara pelaksana program dan masyarakat sasaran. Pelaksana program membawa budaya birokratis-rasional pemerintah yang berisi pemikiran-pemikiran ilmiah dalam pemenuhan kebutuhan gizi untuk mencegah stunting. masyarakat sasaran berangkat dari budaya pragmatis dan berbasis pengalaman hidup. Program intervensi gizi spesifik dan gizi sensitif pada dasarnya untuk memperbaiki kondisi gizi target. Aktivitas menimbang dan mengukur baduta dan balita itu sangat penting untuk mengetahui kondisi gizi anak. Gizi anak dikatakan baik jika hasil pengukuran dan penimbangan badan anak naik sesuai pertambahan umur anak. Sebaliknya, bila hasil timbangan dan pengukuran badan anak tidak naik sejalan pertambahan umur, maka gizi anak dikatan buruk. Akan tetapi, keadaan itu dimaknai berbeda oleh target. Bagi target timbangan anak tidak naik karena anak susah makan. Oleh karena itu, target setuju makanan anak ditingkatkan tetapi cenderung dari segi kuantitas (bukan dari variasi makanan dan kandungan gizinya karena belum dipahami). Sementara tubuh anak pendek itu hal biasa karena keturunan, tidak ada kaitannya dengan ix gizi. Perbedaan budaya ini yang mengakibatkan tidak terjadinya perubahan mindset masyarakat terhadap makanan bergizi yang tercermin dari perilaku dalam pemenuhan gizinya. Jadi, kegagalan substantif implementasi kebijakan pencegahan stunting tidak semata-mata disebabkan oleh keterbatasan sumber daya atau lemahnya sosialisasi program, melainkan oleh ketidaksingkronan makna antara budaya birokrasi pelaksana kebijakan dan sistem makna lokal masyarakat sasaran. Dengan mengintegrasikan teori interaksi kontekstual dan teori budaya simbolik Clifford Geertz, penelitian ini menunjukkan bahwa keberhasilan administratif—seperti terpenuhinya target penimbangan, distribusi tablet tambah darah, dan layanan posyandu—tidak secara otomatis menghasilkan perubahan perilaku gizi, karena pesan kebijakan tidak terinternalisasi ke dalam kerangka makna orang tua tentang kesehatan, pertumbuhan, dan risiko anak. Intervensi gizi dipersepsikan sebagai aktivitas rutin dan simbolik, bukan sebagai kebutuhan mendesak, sehingga penerimaan kebijakan bersifat nominal tanpa transformasi praktik rumah tangga. Dengan demikian, penelitian ini menawarkan perspektif baru dalam studi pembangunan melalui kebijakan kesehatan masyarakat dengan menempatkan makna budaya sebagai variabel kunci yang menjembatani—atau justru memutus—relasi antara inputs kebijakan dan outcomse perilaku, sebuah aspek yang masih jarang dieksplorasi secara mendalam dalam kajian stunting di Indonesia.
| Item Type: | Thesis (S3) |
|---|---|
| Supervisors: | Prof. Dr. rer. soz. Nursyirwan Effendi ; Prof. Defriman Djafri, SKM, MKM, PH.D ; Prof. Dr. Dodi Devianto M.Sc |
| Uncontrolled Keywords: | implementasi kebijkan; stunting; perspektif budaya; makna; intervensi gizi spesifik; intervensi gizi sensitif |
| Subjects: | H Social Sciences > H Social Sciences (General) J Political Science > JS Local government Municipal government |
| Divisions: | Pascasarjana (S3) > S3 Studi Pembangunan |
| Depositing User: | S1 Antropologi Sosial |
| Date Deposited: | 30 Jan 2026 04:55 |
| Last Modified: | 30 Jan 2026 04:55 |
| URI: | http://scholar.unand.ac.id/id/eprint/520182 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |

Altmetric
Altmetric