Naldi, Iping Oktapika (2026) Komodifikasi Makan Bajamba dalam Meningkatkan Pariwisata Berkelanjutan di Nagari Jawi-Jawi Guguak Kabupaten Solok. S2 thesis, Universitas Andalas.
|
Text (Cover dan Abstrak)
cover dan abstrak.pdf - Published Version Download (293kB) |
|
|
Text (Bab 1 Pendahuluan)
BAB I (1).pdf - Published Version Download (579kB) |
|
|
Text (Bab 7 Penutup dan Kesimpulan)
BAB VII penutup.pdf - Published Version Download (437kB) |
|
|
Text (Daftar Pustaka)
DAFTAR PUSTAKA_compressed.pdf - Published Version Download (145kB) |
|
|
Text (Tesis Fulltext)
full TESIS Iping Oktapika Naldi_compressed.pdf - Published Version Restricted to Repository staff only Download (2MB) | Request a copy |
Abstract
Tradisi makan bajamba merupakan salah satu tradisi makan bersama yang dilalukan oleh Masyarakat Minangkabau. Hal ini sudah menjadi tradisi yang dilalukan secara turun temurun. Makan bajamba biasanya dilakukan pada tradisi pernikahan dan batagak penghulu. Seiring perkembangan teknologi dan pariwisata, makan bajamba sudah di komodifikasi menjadi salah satu bagian dari atraksi wisata di bidang kuliner. Dalam hal ini, terdapat beberapa perbedaan antara makan bajamba tradisional yang dilakukan oleh Masyarakat Nagari Jawi-Jawi Guguak dengan makan bajamba untuk pariwisata. Oleh sebab itu penelitian ini bertujuan untuk melihat perubahan dan bentuk pelaksanaan makan bajamba tradisi dan makan bajamba untuk pariwisata, sehingga dapat diketahui makna dan dampak berdasarkan perspektif kajian budaya. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan teori hegemoni dan dekonstruksi dengan perspektif kajian budaya. Metode yang digunakan yaitu metode kualitatif deskriptif. Teknik pengumpulan data yang dilakukan yaitu observasi lapangan, wawancara, tinjauan pustaka dan analisis. Berdasarkan penelitian yang sudah dilakukan di Nagari Jawi-Jawi Guguak bentuk tradisi makan bajamba yang tradisi dikelompokkan pada momen penting pada siklus kehidupan manusia yaitu, makan bajamba pada alek turun mandi, makan bajamba pada alek pernikahan (alek mamantai kambiang dan alek mamantai jawi) dan makan bajamba pada alek mamantai kabau (batagak penghulu). Sedangkan makan bajamba untuk pariwisata muncul ketika nagari Jawi-Jawi ditetapkan menjadi kampung budaya dan Warisan Budaya Takbenda Indonesia (WBTbI) untuk pariwisata berkelanjutan. berdasarkan hal tersebut maka dapat diketahui dampak positif dan dampak negatif serta makna yang yang dapat diketahui yaitu makna keagamaan, makna sosial dan makna budaya.
| Item Type: | Thesis (S2) |
|---|---|
| Supervisors: | Dr. Nopriyasman, M.Hum; Diah tyahaya Iman, M.Litt., P.hD |
| Uncontrolled Keywords: | Komodifikasi; Makan Bajamba; Pariwisata Berkelanjutan; dan Kajian Budaya |
| Subjects: | A General Works > AS Academies and learned societies (General) |
| Divisions: | Fakultas Ilmu Budaya > S2 Kajian Budaya |
| Depositing User: | S2 Kajian Budaya |
| Date Deposited: | 26 Jan 2026 09:20 |
| Last Modified: | 26 Jan 2026 09:20 |
| URI: | http://scholar.unand.ac.id/id/eprint/518386 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |

["Plugin/Screen/EPrint/Box/Plumx:title" not defined]
["Plugin/Screen/EPrint/Box/Plumx:title" not defined]