Floria, Dwisa (2012) Hubungan Kepala Daerah Dan Wakil Kepala Daerah Pasca Pemilihan Umum Kepala Daerah Menurut Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004. S1 thesis, Universitas Andalas.
|
Text (full taxt)
OK S1 Hukum 2012 Dwisa Floria 0810111046.pdf Restricted to Repository staff only Download (4MB) |
Abstract
Pemilukada sudah mampu membuat suatu hubungan kerja yang terjalin antara kepala daerah dengan wakil kepala daerah. Hubungan ini terjalin bersamaan dengan terpilihnya masing-masing calon untuk maju dalam pemilukada, masing-masing kader mempunyai wakil kepala daerah yang akan menjalankan visi dan misi yang telah dibuat sebelum menjabat menjadi kepala daerah. Tidak bisa dipungkiri kalau hubungan tersebut akan tidak harmonis karena alasan-alasan tertentu. Dan adapun yang menjadi permasalahan yang penulis angkat adalah hubungan kepala daerah dan wakil kepala daerah pasca pemilihan umum kepala daerah menurut Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 dan permasalahan hukum yang ditimbulkan akibat disharmonis hubungan kepala daerah dan wakil kepala daerah pasca pemilihan umum kepala daerah. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan yuridis normatif, dengan menekankan aspek hukum yang berkenaan dengan permasalahan kemudian dihubungkan dengan bahan hukum yang ada. Hubungan kepala daerah menurut UU No. 32 Tahun 2004 merupakan hubungan kerja yang diatur dalam Pasal 25 dan Pasal 26, yang mempunyai tugas dan wewenang sendiri untuk dapat menjalankan otonomi daerah. Tidak harmonisnya hubungan kepala daerah dengan wakil kepala daerah dikarenakan perbedaan pendapat di antara mereka berdua, serta ketidakjelasan mengenai tugas dan wewenang wakil kepala daerah dan kedudukan wakil kepala daerah, yang akan mempengaruhi dalam pelaksanaan tugas pemerintahan. Permasalahan hukum yang ditimbulkan akibat disharmonis hubungan kepala daerah dan wakil kepala daerah pasca pemilihan umum kepala daerah adalah kekosongan jabatan posisi wakil kepala daerah. Wakil kepala daerah yang mundur dari jabatannya akan mengakibatkan kekosongan jabatan yang akan mengganggu stabilitas pemerintahan di daerah. Tindakan yang diambil pemerintah pusat terkait adanya permasalahan hukum tersebut adalah dengan merevisi UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, dengan membagi tiga isi dari UU tersebut yaitu RUU Pemda, RUU Pemilukada, dan RUU Pemerintahan Nagari. Hubungan yang harmonis akan tercipta apabila kepala daerah dengan wakil kepala daerah saling menghormati jabatan masing-masing, menghilangkan persaingan kerja di antara keduanya, serta saling kontrol dalam tugas dan wewenang.
| Item Type: | Thesis (S1) |
|---|---|
| Supervisors: | Dr.Suharizal, S.H,.M.H.; Delfina Gusman S.H.,M.H |
| Uncontrolled Keywords: | - |
| Subjects: | K Law > K Law (General) |
| Divisions: | Fakultas Hukum > S1 Hukum |
| Depositing User: | M.Daffa Hailkal PKL UIN IB 2026 |
| Date Deposited: | 07 Jan 2026 07:39 |
| Last Modified: | 07 Jan 2026 07:39 |
| URI: | http://scholar.unand.ac.id/id/eprint/516459 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |

Altmetric
Altmetric