Maulini, Rosi (2025) Hubungan Luaran Pemberian Kortikosteroid Sistemik pada Penyakit Paru Obstruktif Kronik Eksaserbasi Akut Tipe Eosinofilik dan Non-Eosinofilik di RS M. Djamil, Padang. Spesialis thesis, Universitas Andalas.
![]() |
Text (Cover dan Abstrak)
cover dan abstrak.pdf - Published Version Download (383kB) |
![]() |
Text (BAB I)
BAB I.pdf - Published Version Download (284kB) |
![]() |
Text (BAB Penutup)
BAB Penutup.pdf - Published Version Download (236kB) |
![]() |
Text (Dafpus)
Dafpus.pdf - Published Version Download (290kB) |
![]() |
Text (full tesis)
TESIS HUBUNGAN LUARAN PEMBERIAN KORTIKOSTEROID SISTEMIK PADA PENYAKIT PARU OBSTRUKTIF KRONIK EKSASERBASI AKUT TIPE EOSINOFILIK DAN NON-EOSINOFILIK DI RS M DJAMIL PADAN.pdf - Published Version Restricted to Repository staff only Download (2MB) | Request a copy |
Abstract
Latar belakang dan tujuan: Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) eksaserbasi akut memperburuk kesehatan dan meningkatkan readmisi, tetapi tipe eosinofilik menunjukkan luaran lebih baik dengan kortikosteroid, kurangnya data di RS M. Djamil mendorong studi ini. Penilitian ini bertujuan untuk menilai apakah terdapat hubungan luaran pemberian kortikosteroid sistemik pada pasien PPOK eksaserbasi akut tipe eosinofilik dan non-eosinofilik. Metode: Sebuah studi retrospektif pasien PPOK eksaserbasi akut yang diambil dari 1 Januari 2024 hingga 31 Desember 2024. Diagnosis PPOK ditegakkan berdasarkan spirometri. Pasien dikelompokkan menjadi eosinofilik dan non-eosinofilk berdasarkan kadar eosinofil darah pasien di awal (≥300 dan <300 sel/μL). Data karakteristik, pemberian kortikosteroid sistemik, luaran primer (mortalitas) dan luaran sekunder (lama rawatan) dinilai pada pasien. Hasil: Sebanyak 53 pasien PPOK eksaserbasi akut masuk dalam penelitian ini. Delapan pasien (15,1%) kelompok eosinofilik dan 45 pasien (84,9%) non-eosinofilik. Kelompok eosinofilik 50% bertahan hidup dengan dosis kortikosteroid rendah atau sedang, tanpa kematian. Kelompok non-eosinofilik memiliki mortalitas tertinggi pada dosis rendah (44,4%) dan kelangsungan hidup tertinggi pada dosis sedang (66,7%) dengan P=0,151. Penelitian ini menunjukkan bahwa baik pada kelompok eosinofilik maupun non-eosinofilik, tidak terdapat perbedaan bermakna dalam lama rawatan antara yang menerima kortikosteroid dosis rendah dan sedang (P=1,000 dan P=0,659). Kesimpulan: Seluruh pasien kelompok eosinofilik dengan luaran hidup. Tidak terdapat hubungan eosinofil dan dosis kortikosteroid dengan lama rawat pasien PPOK eksaserbasi akut.
Item Type: | Thesis (Spesialis) |
---|---|
Supervisors: | dr. Deddy Herman, Sp. P (K) FCCP, FISR, FAPSR, MCH; dr. Fenty Anggrainy, Sp. P (K) FAPSR, FISR |
Uncontrolled Keywords: | penyakit paru obstruksi kronis, eosinofilik, non-eosinofilik, kortikosteroid, luaran |
Subjects: | R Medicine > RC Internal medicine |
Divisions: | Fakultas Kedokteran > Sp-1 Pulmologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi |
Depositing User: | s2 Program Pendidikan Dokter Spesialis |
Date Deposited: | 29 Aug 2025 09:20 |
Last Modified: | 29 Aug 2025 09:20 |
URI: | http://scholar.unand.ac.id/id/eprint/507608 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |