Fitri, Aulia Admeiva (2025) TRADISI PANAKI DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT MENTAWAI (Studi Kasus: Desa Saibi Samukop, Kecamatan Siberut Tengah, Kabupaten Kepulauan Mentawai). S1 thesis, Universitas Andalas.
![]() |
Text (Cover dan Abstrak)
cover dan abstrak.pdf - Published Version Download (767kB) |
![]() |
Text (Pendahuluan)
pendahuluan.pdf - Published Version Download (396kB) |
![]() |
Text (Penutup)
penutup.pdf - Published Version Download (89kB) |
![]() |
Text (Daftar Pustaka)
daftar pustaka.pdf - Published Version Download (321kB) |
![]() |
Text (Skripsi Full)
skripsi full turnitin.pdf - Published Version Restricted to Repository staff only Download (6MB) | Request a copy |
Abstract
Tradisi Panaki merupakan salah satu bagian penting dari kepercayaan Arat Sabulungan masyarakat Mentawai yang masih dijalankan di Desa Saibi hingga sekarang. Panaki dilakukan sebelum seseorang memulai kegiatan tertentu yang menyangkut lahan, hutan, atau tempat-tempat yang dianggap sakral. Kegiatan itu misalnya membuka ladang, membangun rumah, membuka pondok ternak, membuat abag, berburu, bahkan ketika kehilangan barang atau akan memasuki goa. Panaki dimaksudkan sebagai cara untuk meminta izin dan perlindungan kepada roh-roh penjaga hutan supaya terhindar dari gangguan dan musibah. Namun, seiring berjalannya waktu, praktik Panaki mengalami perubahan. Perubahan ini dipengaruhi oleh pertambahan jumlah penduduk yang semakin membutuhkan lahan, masuknya pendidikan formal dan ajaran agama, serta adanya aturan dan kebijakan pemerintah terkait penggunaan hutan dan lahan. Hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai bagaimana praktik tradisi Panaki pada masyarakat Mentawai saat ini dan bagaimana perubahan pemahaman masyarakat terhadap tradisi Panaki. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan praktik pelaksanaan tradisi Panaki pada masyarakat Mentawai saat ini, dan menganalisis perubahan pemahaman masyarakat terhadap tradisi Panaki. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran tentang peran Panaki dalam kehidupan masyarakat saat ini, baik sebagai bagian dari adat maupun sebagai cara untuk tetap menjaga hubungan yang baik dengan lingkungan dan kepercayaan mereka. Berdasarkan hasil penelitian, Panaki masih dilakukan oleh masyarakat Desa Saibi pada berbagai kesempatan, seperti sebelum membuka ladang, membangun rumah, membuka pondok ternak, membuat abag, berburu, memasuki goa, atau saat kehilangan barang. Namun, praktiknya kini tidak sepenuhnya sama seperti dulu. Sebagian masyarakat sudah memasukkan doa-doa agama ke dalam Panaki, dan ada juga generasi muda yang mulai mengabaikan atau tidak sepenuhnya memahami pantangan-pantangan yang harus dipatuhi. Selain itu, Panaki dilakukan lebih sering karena kebutuhan lahan meningkat seiring pertambahan jumlah penduduk. Masuknya pendidikan, agama, dan kebijakan pemerintah juga memengaruhi cara pandang masyarakat terhadap ritual ini. Meskipun demikian, Panaki tetap dianggap penting sebagai bagian dari adat yang harus dilakukan untuk menjaga keselamatan dan menghindari gangguan ketika menjalankan kegiatan tertentu.
Item Type: | Thesis (S1) |
---|---|
Supervisors: | Prof. Dr. Erwin, M.Si; Sri Meiyenti, S.Sos, M.Si |
Uncontrolled Keywords: | Panaki; Arat Sabulungan; Ekologi; Masyarakat Mentawai |
Subjects: | H Social Sciences > H Social Sciences (General) |
Divisions: | Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik > S1 Antropologi Sosial |
Depositing User: | S1 Antropologi Sosial |
Date Deposited: | 26 Aug 2025 04:37 |
Last Modified: | 26 Aug 2025 04:37 |
URI: | http://scholar.unand.ac.id/id/eprint/505670 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |