Karakteristik Hujan dan Petir di Pantai Barat Sumatera pada Setiap Musim dan Fase Madden Julian Oscillation

Rahmat, Ilham (2024) Karakteristik Hujan dan Petir di Pantai Barat Sumatera pada Setiap Musim dan Fase Madden Julian Oscillation. Masters thesis, Universitas Andalas.

[img] Text (Cover dan Abstrak)
Cover dan Abstrak.pdf - Published Version

Download (46kB)
[img] Text (BAB 1. Pendahuluan)
BAB I. Pendahuluan.pdf - Published Version

Download (49kB)
[img] Text (BAB 5. Penutup)
BAB V. Penutup.pdf - Published Version

Download (33kB)
[img] Text (Daftar Pustaka)
Daftar Pustaka.pdf - Published Version

Download (133kB)
[img] Text (Tesis Full Text)
Tesis Full text.pdf - Published Version
Restricted to Repository staff only

Download (4MB) | Request a copy

Abstract

Karakteristik hujan dan petir pada setiap musim dan fase Madden Jullian Oscillation berdasarkan pengamatan Integrated Multi-satellitE Retrievals for the GPM (IMERG) (2000-2020), GPM DPR level 2 (2014-2020), dan World Wide Lightning Location Network (WWLLN) (2017-2018) untuk kawasan pantai barat Sumatera telah dilakukan. Pantai barat Sumatera dibagi atas 3 kawasan yaitu utara ekuator, ekuator, dan selatan ekuator. Pengaruh musim terhadap struktur vertikal hujan untuk kawasan utara ekuator, nilai Z-Ku dan Dm dari semua jenis hujan lebih tinggi pada musim DJFM dengan Nw yang lebih kecil. Semakin besar nilai Z maka semakin besar ukuran butiran hujan. Hal ini menunjukkan bahwa jumlah butiran berukuran besar lebih banyak terjadi pada musim DJFM. Hal ini disebabkan karena musim DJFM merupakan periode konveksi di Indonesia. Periode konveksi ini akan membantu dalam pertumbuhan dari ukuran butiran hujan. Untuk kawasan ekuator, nilai Z-Ku, Dm dari semua jenis hujan lebih tinggi pada musim MJJASO dengan Nw hujan deep convective lebih tinggi pada musim DJFM. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh pergerakan ITCZ ke arah utara dan selatan belahan bumi dan peyinaran matahari yang lebih banyak sehingga meningkatkan ukuran butiran hujan. Pengaruh MJO terhadap struktur vertikal hujan untuk semua kawasan secara umum menyebabkan ukuran butiran lebih besar terjadi pada fase MJO tidak aktif dengan jumlah butiran cendrung lebih sedikit. Hal ini disebabkan karena selama fase MJO tidak aktif, terjadi konveksi yang kuat, sehingga menyebabkan aliran udara ke atas dan peningkatan butiran hujan yang lebih besar melalui proses tumbukan-penggabungan (collision-coalescence). Selama fase MJO aktif, terjadi penurunan butiran hujan yang menunjukkan proses break-up yang dominan. Secara umum, rata-rata curah hujan harian tertinggi pada fase 1, 2 dan terendah pada fase 5,6, dan 7. Jumlah sambaran petir pada musim MJJASO tertinggi pada fase MJO tidak aktif. Pada saat fase MJO tidak aktif, penyinaran matahari lebih banyak kemudian terjadi peningkatan konveksi sehingga jumlah sambaran petir pada fase ini lebih tinggi.

Item Type: Thesis (Masters)
Primary Supervisor: Prof. Dr. techn. Marzuki
Uncontrolled Keywords: pantai barat Sumatera, madden julian oscillation, curah hujan, petir, struktur vertikal hujan.
Subjects: Q Science > QC Physics
Divisions: Pascasarjana (S2)
Depositing User: s2 fisika fisika
Date Deposited: 26 Feb 2024 01:50
Last Modified: 26 Feb 2024 01:50
URI: http://scholar.unand.ac.id/id/eprint/463314

Actions (login required)

View Item View Item