POLA PERILAKU PERAMBAHAN HUTAN DI WILAYAH KERJA KESATUAN PENGELOLAAN HUTAN PRODUKSI (KPHP) DHARMASRAYA, PROVINSI SUMATERA BARAT, INDONESIA

Yurike, Yurike (2018) POLA PERILAKU PERAMBAHAN HUTAN DI WILAYAH KERJA KESATUAN PENGELOLAAN HUTAN PRODUKSI (KPHP) DHARMASRAYA, PROVINSI SUMATERA BARAT, INDONESIA. Doctoral thesis, Universitas Andalas.

[img]
Preview
Text (Cover dan Abstrak)
1.cover dan abstrak.pdf - Published Version

Download (99kB) | Preview
[img]
Preview
Text (BAB 1 (PENDAHULUAN))
2. BAB I (PENDAHULUAN).pdf - Published Version

Download (168kB) | Preview
[img]
Preview
Text (BAB AKHIR (PENUTUP/KESIMPULAN))
3. BAB V (PENUTUP).pdf - Published Version

Download (64kB) | Preview
[img]
Preview
Text (Daftar Pustaka)
4.DAFTAR PUSTAKA.pdf - Published Version

Download (197kB) | Preview
[img] Text (Disertation Full text)
5.Tugas Akhir Ilmiah Utuh.pdf - Published Version
Restricted to Repository staff only

Download (2MB)

Abstract

Studi ini dimotivasi oleh tingginya laju deforestasi di Kabupaten Dharmasraya karena konversi hutan menjadi perkebunan. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan perubahan kondisi hutan di kawasan KPHP Dharmasraya, menganalisis karakteristik sosial ekonomi, persepsi, pola perilaku perambahan hutan dan faktor-faktor yang mempengaruhi pola perilaku perambahan hutan di kawasan KPHP Dharmasraya. Penelitian ini menggunakan metode survei yang melibatkan 250 rumah tangga. Data dianalisis secara kualitatif (causal loop diagram) dan kuantitatif (analisis faktor dan multinomial). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kawasan hutan di KPHP Dharmasraya telah hilang sebesar 85% dalam dekade terakhir. Perambahan hutan di picu oleh kekosongan saat peralihan PT Ragusa ke Inhutani. Kepemilikan lahan di Dharmasraya merupakan lahan komunal suku Melayu. Perambah hutan di Dharmasraya diklasifikasikan sebagai keluarga menengah ke atas, hal ini terjadi karena adanya kesempatan untuk berinvestasi. Terdapat 3 pola perilaku perambahan hutan yaitu pola tidak ramah hutan, pola campuran dan pola ramah hutan. Pendidikan pendatang lebih tinggi jika dibandingkan dengan penduduk lokal, namun pola perambahan penduduk lokal lebih ramah hutan jika dibandingakan dengan pendatang. Jika dilihat berdasarkan luas lahan, maka luas lahan perkebunan karet paling sedikit, yakni 822 ha, sedangkan luas perkebunan sawit mencapai 1.203 ha. Sebesar 35,2% responden memilih pola campuran. Hal ini perlu menjadi perhatian karena ada kecenderungan responden yang awalnya hanya menanam karet kemudian juga membuka lahan untuk menanam sawit. Model sistem dinamis menunjukkan deforestasi dipicu oleh lemahnya penegakan hukum sehingga memberikan kesempatan masyarakat untuk melakukan perambahan. Hal ini mengarah pada jual beli lahan hutan di Dharmasraya. Peningkatan pendapatan akan meningkatkan permintaan akan lahan. Faktor-faktor yang signifikan (sig < 0,05) mempengaruhi pola perilaku perambahan hutan diantaranya: faktor pendapatan dan asset yang memadai, ketersediaan tenaga kerja keluarga, pengalaman bertani, persepsi perambah tentang fungsi. Penegakan hukum yang lemah memfasilitasi perambahan lahan hutan, hal yang sama juga berlaku untuk kurangnya perhatian dan sosialisasi pemerintah kepada masyarakat. Kata Kunci: deforestasi, elite lokal, konversi lahan, lahan adat, perambahan hutan

Item Type: Thesis (Doctoral)
Primary Supervisor: Prof. Ir. Yonariza, MSc, Ph.D.,
Subjects: S Agriculture > SD Forestry
Divisions: Pascasarjana (Disertasi)
Depositing User: S3 Ilmu-Ilmu Pertanian
Date Deposited: 07 Nov 2018 11:59
Last Modified: 07 Nov 2018 11:59
URI: http://scholar.unand.ac.id/id/eprint/40506

Actions (login required)

View Item View Item