PENGARUH FAKTOR-FAKTOR EXPERIENTIAL MARKETING TERHADAPA LOYALITAS WISATAWAN (kasus wisatawan yang berkunjung ke MIFAN padang panjang)

SEPTIYAN, MAULANA (2015) PENGARUH FAKTOR-FAKTOR EXPERIENTIAL MARKETING TERHADAPA LOYALITAS WISATAWAN (kasus wisatawan yang berkunjung ke MIFAN padang panjang). Diploma thesis, Universitas Andalas.

[img] Text (Skripsi Full Text)
1169.pdf - Published Version
Restricted to Repository staff only

Download (634kB)

Abstract

Aktivitas masyarakat yang semakin padat pada saat sekarang ini membuat tingkat stres masyarakat tersebut menjadi bertambah. Tingginya tingkat stres mengharuskan individu untuk mencari hal yang bisa digunakan sebagai alat refreshing. Berkunjung ketempat wisata merupakan suatu hal yang efektif untuk menyegarkan pikiran. Selain untuk refreshing dan mengurangi stres, berkunjung ke tempat wisata juga bisa menjadi waktu untuk berkumpul dengan keluarga. Selain itu, berwisata juga dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat (Nandi, 2008). Kepariwisataan dapat dipandang sebagai sesuatu yang abstrak, yakni suatu yang melukiskan kepergian orang-orang dalam negaranya sendiri (pariwisata domestik) atau pariwisata internasional. Pariwisata adalah suatu kegiatan yang secara langsung menyentuh dan melibatkan masyarakat, sehingga membawa berbagai manfaat terhadap masyarakat setempat dan sekitarnya. Hal tersebut dapat menjadi keuntungan bagi daerah yang memiliki aset berupa objek wisata yang diminati masyarakat. Pendapatan kas daerah dapat mengalami peningkatan seiring berkembangnya berbagai objek wisata di daerah tersebut (Munavizt,2010). Usaha pemerintah daerah membangun pariwisata tidak lepas dari upaya meningkatkan PAD (Pendapatan Asli Daerah) seperti retribusi karcis masuk objek wisata, retribusi penjualan, parkir dan retribusi perijinan usaha serta pajak hiburan, hotel dan restoran. Perluasan kesempatan berusaha misalnya penambahan 2 hotel, restoran, cafe, usaha dibidang hiburan, perusahaan travel, produsen dan penjual barang cindramata, pedagang kaki lima dan lain sebagainya. Dengan berkembangnya usaha ekonomi kepariwisataan tersebut maka akan dengan sendirinya membuka peluang kesempatan kerja disektor tersebut yang pada akhirnya dapat memberikan peningkatan pendapatan masyarakat itu sendiri (Nandi, 2008). Banyaknya penyedia jasa pariwisata pada saat ini menyebabkan persaingan yang sangat ketat pada industri ini. Konsumen memiliki banyak alternatif dalam memilih tempat yang akan dikunjunginya. Seiring dengan hal tersebut, perusahaan penyedia jasa pariwisata dituntut untuk mampu melakukan berbagai inovasi. Semua pelaku bisnis (termasuk juga pihak-pihak yang terkait dengan manajemen pengelolaan dalam bidang kepariwisataan) dituntut untuk melakukan proactive strategic demi mempertahankan market share dan profitabilitasnya (Edy dkk, 2006). Padang Panjang merupakan salah satu kota terkecil yang berada di wilayah Provinsi Sumatera Barat. Padang Panjang mempunyai luas 2.300 Ha atau sekitar 0,05 persen dari luas Sumatera Barat. Walaupun kecil, Kota Padang Panjang memiliki posisi yang cukup strategis karena terletak pada lintasan regional antara Kota Padang dengan Kota Bukittinggi, dan begitu juga antara Kota Solok dengan Kota Bukittinggi (Padang Panjang Dalam Angka, 2014) Kota Padang Panjang selain sebagai Kota Serambi Mekkah dan kota pendidikan juga merupakan daerah transit. Oleh karena itu pemerintah daerah mengembangkan hotel dan pariwisata. Berbagai tempat wisata tersedia dan dapat 3 dikunjungi di Kota Padang Panjang di antaranya Minang Fantasi (Mifan), PDIKM, pemandian Lubuk Mata Kucing, STSI, dan lain-lain. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Padang Panjang, jumlah pengunjung objek wisata dari tahun ke tahun semakin bertambah. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dalam tabel berikut : Tabel 1.1 Jumlah Pengunjung Objek Wisata di Padang Panjang Tahun 2009-2013 Objek Wisata Jumlah Pengunjung (orang) 2009 2010 2011 2012 2013 Minang Fantasi 264.000 324.031 218.963 276.769 301.254 Pusat Dokumentasi & Informasi Kebudayaan Minangkabau 13.383 14.642 18.122 29.552 51.486 Pemandian Lubuk Mata Kucing 13.456 10.542 15.346 16.166 19.269 ISI 513 580 692 624 1.963 Bukit Berbunga 602 1.363 1.792 5.072 6.387 Mesjid Azazi 50 35 303 400 381.461 Total 292.004 351.193 255.218 328.583 761.820 Sumber : Statistik Daerah Kota Padang Panjang tahun 2011-2014 Berdasarkan tabel 1.1 diatas terlihat bahwa jumlah pengunjung objek wisata di Padang Panjang meningkat setiap tahunnya. Dari sekian banyak objek wisata yang ada Minang Fantasi (Mifan) merupakan salah satu objek wisata yang paling diminati oleh wisatawan. Hal ini terlihat dari banyak nya jumlah pengunjung dan setiap tahunnya mengalami peningkatan. Dari 264.000 orang pada tahun 2009 dan semakin bertambah menjadi 301.254 orang pada tahun 2013. Perkembangan dunia bisnis wisata yang semakin pesat, membuat para pelaku bisnis berkompetisi dalam merebut pangsa pasar. Ada banyak faktor dan cara dalam merebut pangsa pasar tersebut. Salah satu caranya adalah dengan 4 memperoleh wisatawan sebanyak-banyaknya. Oleh karena itu, berdasarkan pertimbangan dari survei pendahuluan, dalam meningkatkan jumlah wisatawan dan mempertahankan loyalitas mereka, maka konsep experiential marketing dianggap sebagai pilihan yang tepat untuk diterapkan pada sebuah perusahaan (Jatmiko dan Andharini, 2012). Konsep pemasaran yang memberikan pengalaman unik kepada pelanggan dikenal dengan istilah experiential marketing. Konsep ini berusaha menghadirkan pengalaman yang unik, positif dan mengesankan kepada konsumen. Dengan demikian, konsumen akan merasa terkesan pada pengalaman selama menikmati produk perusahaan ini akan tertanam dalam pikiran mereka sehingga nantinya pelanggan tidak hanya akan loyal tapi juga menyebarkan informasi mengenai produk perusahaan secara word of mouth (Musfar dan Novia, 2012). Persaingan sebuah perusahaan harus memiliki keunggulan bersaing untuk dapat terus bertahan pada produk yang mereka tawarkan pada konsumen. Salah satu hal utama yang harus dilakukan untuk meraih keunggulan bersaing tersebut adalah dengan focus terhadap konsumen. Focus terhadap konsumen dapat dilakukan dengan memonitor pengalaman atau experience yang dirasakan dari kontak tersebut (Gentille, Spiller dan Noci, 2007 dalam Dharmawansyah, 2013). Pada tahapan experiential marketing ini produsen memandang pelanggan sebagai sosok yang mempunyai nilai emosional yaitu satu pandangan yang menekankan adanya hubungan antara produsen dengan pelanggan sampai pada tahap diterimanya pengalaman tak terlupakan oleh pelanggan (Dharmawansyah, 2013). 5 Kepuasan wisatawan digunakan sebagai pengukur kesuksesan sebuah merek. Barang dan layanan yang bagus dianggap sudah cukup dalam memuaskan wisatawan. Namun, ketika memasuki era experiential economy, konsep di era services economy dan service excellence menjadi kurang relevan. Maka dari itu, produk harus mampu membangkitkan sensasi dan pengalaman yang akan menjadi basis loyalitas wisatawan. Experiential Marketing merupakan suatu metode pemasaran yang relatif baru, yang disampaikan ke dunia pemasaran lewat sebuah buku Experiential Marketing: How to Get Customers toSense, Feel, Think, Act, and Relate to Your Companyand Brands, oleh Bernd H. Schmitt (1999). Penelitian yang mengaitkan experiential marketing dengan loyalitas wisatawan telah banyak dilakukan. Jatmiko dan Andharini (2012) pada Taman Rekreasi Sengkaling Malang, Ika dan Kustini (2011) pada Produk Sepeda Motor Honda. Peneliti bermaksud melakukan penelitian dengan variabel yang sama namun dengan objek yang berbeda, yaitu Objek Wisata Minang Fantasi Padang Panjang. Suatu perusahaan yang bergerak dalam bidang jasa seharusnya mampu melakukan kegiatan pemasaran yang dapat menarik minat konsumen. Harus mampu menarik bagi panca indera (sense), menarik bagi perasaan (feel), menarik bagi cara berpikir (think), sehingga mampu mendorong tindakan (act) yang mengarah kepada wujud loyalitas. Seluruh aspek tersebut harus mampu berkesinambungan (relate) dalam mempengaruhiagar konsumen dapat loyal.Oleh karena itu, pengembangan objek wisata yang diamati kali ini diorientasikan untuk membenahi kualitas pelayanan dan fisik yang disuguhkan untuk pengunjung, 6 mengamati selera pasar, serta meningkatkan kualitas manajemennya demi menggapai wisatawan yang loyal (Jatmiko dan Andharini, 2012). Loyalitas pelanggan sangat penting bagi perusahaan yang ingin menjaga kelangsungan hidup usahanya maupun keberhasilan usahanya. Loyalitas pelanggan merupakan dorongan yang sangat penting untuk menciptakan penjualan (Musfar dan Novia, 2012). Kesibukan yang dijalani sehari-hari membuat masyarakat harus mencari suatu hal yang bisa digunakan sebagai alat untuk menyegarkan otak dan mengurangi stres. Salah satu hal yang bisa dijadikan sebagai alat pengurang stres tersebut adalah berkunjung ke tempat wisata. Mifan merupakan salah satu tempat wisata favorit yang dipilih untuk dikunjungi wisatawan lokal maupun wisatawan asing. Mifan merupakan wahana rekreasi keluarga terbesar di Sumatera Barat, bahkan jika dibandingkan dengan wahana Labersa yang ada di Pekanbaru, Mifan masih lebih baik. Berdasarkan hal tersebut peneliti tertarik untuk meneliti Pengaruh Faktor-faktor Experiential Marketing berupa sense, feel, think, act, dan relate, terhadap loyalitas wisatawan pada objek wisata Minang Fantasy Padang Panjang.

Item Type: Thesis (Diploma)
Subjects: H Social Sciences > HB Economic Theory
Divisions: Fakultas Ekonomi > Manajemen
Depositing User: Mr Azi Rahman
Date Deposited: 03 Mar 2016 07:36
Last Modified: 03 Mar 2016 07:36
URI: http://scholar.unand.ac.id/id/eprint/3239

Actions (login required)

View Item View Item