UJI DAYA HASIL BEBERAPA GENOTIPE SORGUM (Sorghum bicolor L. Moench) PADA TANAH ULTISOL DI LIMAU MANIS

ARIES, PRIMA PUTRA (2015) UJI DAYA HASIL BEBERAPA GENOTIPE SORGUM (Sorghum bicolor L. Moench) PADA TANAH ULTISOL DI LIMAU MANIS. Diploma thesis, Universitas Andalas.

[img] Text
220.pdf - Published Version
Restricted to Repository staff only

Download (3MB)

Abstract

Latar belakang Pembangunan pertanian di Indonesia dari dahulu sampai saat ini dititikberatkan pada tanaman pangan seperti padi dan palawija. Namun dilain pihak, pengembangan tanaman serealia lainnya selain padi dan jagung sangat diharapkan untuk menunjang pengembangan diversifikasi pangan sebagai bahan alternatif untuk memenuhi kebutuhan akan pangan non beras. Indonesia memiliki sumber daya yang cukup untuk menjamin ketahanan pangan bagi penduduknya, akan tetapi masih banyak penduduk Indonesia yang kekurangan pangan akibat pengembangan yang terlambat. Berdasarkan data jumlah penduduk tahun 2010 sebesar 237.556.363 jiwa dengan laju pertumbuhan penduduk rata-rata 1,49% per tahun maka pada tahun 2014 jumlah penduduk Indonesia adalah sebesar 252.034.317 jiwa. Apabila kon-sumsi beras per kapita per tahun 139,15 kg pada tahun 2010 dan dengan laju pe-nurunan konsumsi beras per kapita per tahun sebesar 1,5% maka kebutuhan beras pada tahun 2014 adalah 33.013.214 juta ton. Dari produksi itu dikurangi surplus 10 juta ton, berarti harus ada produksi beras minimal 43 juta ton atau setara de-ngan 76,57 juta ton Gabah Kering Giling (GKG) (Deptan, 2013). Dari data di atas ini jumlah penduduk maupun target produksi beras memberikan indikasi tentang pentingnya dilakukan diversifikasi pangan untuk mendukung program pemerintah dalam mencapai target produksi beras. Apalagi saat ini, laju pertumbuhan produksi beras dalam beberapa tahun terakhir ini sudah lebih rendah dari pada periode sebelumnya. Diversifikasi pangan dapat dijadikan sebagai alternatif untuk mengatasi permasalahan ketahanan pangan maupun produktivitas pangan. Banyak tanaman pangan lain yang potensial dikembangkan di Indonesia, salah satunya adalah sorgum. Tanaman sorgum mempunyai manfaat yang sangat luas, di antaranya adalah untuk bahan pangan manusia, bahan baku industri makanan maupun minuman, bahan baku pembuatan sirup serta untuk pakan ternak. Perkembangan terbaru menunjukkan selain ancaman krisis pangan, krisis energi konvensional juga menjadi ancaman lain di dunia. Untuk itu sorgum merupakan energi terbarukan yang potensial untuk dikembangkan menjadi salah satu bahan baku dalam pembuatan etanol (bioetanol). Sorgum memiliki kandungan nutrisi yang baik, bahkan kandungan protein dan unsur-unsur penting lainnya yang lebih tinggi daripada beras (Direktorat Gizi, 1992). Selain karbohidrat, protein, dan lemak yang dihasilkan dari biji sorgum, batang sorgum manis juga mengandung kadar gula tinggi (Hoeman 2007). Sorgum juga merupakan salah satu bahan pangan yang potensial untuk substitusi terigu karena karakteristik mutu tepungnya (gizi, reologi dan sifat-sifat mekanis) relatif lebih baik dibanding tepung umbi-umbian (Ahza, 1998). Tepung sorgum diketahui tidak mengandung gluten sehingga sangat sesuai dikonsumsi penderita penyakit celiac (alergi gluten) (Schober et. al, 2007). Sorgum adalah tanaman yang cocok ditanam di Indonesia, tetapi Indonesia tidak termasuk dalam produsen sorgum di dunia. Permasalahan yang dihadapi adalah rendahnya produktifitas dan kualitas hasil pada tanaman sorgum. Produksi tanaman sorgum yang masih rendah ini dapat disebabkan oleh beberapa hal yaitu keterbatasan pengetahuan petani terhadap sorgum, minat petani dalam menanam sorgum yang masih sangat rendah, serta luas lahan untuk tanaman pangan yang semakin sempit, dan juga sorgum masih ditanam di lahan-lahan marjinal, se-hingga tidak memaksimalkan potensi hasil pada tanaman sorgum itu sendiri. Selain rendahnya produktivitas dan kualitas hasil, pengembangan sorgum juga masih terkendala masalah pengolahan pasca panen, selama ini pengolahan hasil sorgum masih dilakukan secara sederhana yaitu dengan ditumbuk dan hanya menghasilkan tepung, serta pemasarannya yang masih mengalami banyak kesuli-tan. Hal tersebut membuat kurangnya minat petani dalam mengembangkan tanaman sorgum, Karena secara ekonomi budidaya sorgum dinilai belum me-nguntungkan. Tanaman sorgum (Sorghum bicolor L. Moench) merupakan tanaman biji-bijian (serealia) yang memiliki banyak kegunaan dan sangat berpotensi untuk dikembangkan secara komersial khususnya pada daerah-daerah marginal dan kering di Indonesia. Keunggulan sorgum terletak pada daya adaptasi agroekologi yang luas, tahan terhadap kekeringan, produksi tinggi, serta lebih tahan terhadap hama dan penyakit dibanding tanaman pangan lain. Tanaman sorgum memiliki potensi yang cukup besar untuk dikembangkan sebagai sumber pangan, pakan, bioetanol, dan untuk berbagai keperluan industri lainnya. Sorgum (Sorghum bicolor L. Moench) merupakan tanaman asli Afrika Timur di wilayah Abessinia, Ethiopia, dan sekitarnya (Vavilov 1926), yang kini menjadi tanaman kosmopolitan menyebar ke seluruh dunia. Data FAO tahun 2013 menunjukkan terdapat 110 negara di dunia yang menanam sorgum. Indonesia yang sudah menanam sorgum sejak awal abad ke-4 justru tidak tercantum pada daftar negara produsen sorgum FAO, kemungkinan karena luas areal panennya sangat kecil (FAO 2013). Tanaman sorgum telah lama dan banyak dikenal oleh petani Indonesia, di Jawa sorgum dikenal dengan nama Cantel, dan biasanya petani menanamnya secara tumpang sari dengan tanaman pangan lainnya. Produksi sorgum Indonesia masih sangat rendah, bahkan secara umum produk sorgum belum tersedia di pasar-pasar. Sejak tahun 2004 hingga tahun 2008 sorgum telah dikembangkan di 6 propinsi luasan pengembangan mencapai 22.650 ha. Daerah penanaman sorgum meliputi Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, Nusa Tenggara Barat dan Sulawesi Selatan. Total produksi tahun 2006 adalah 1.770 ton / tahun ( Rahayu, 1998). Pengembangan sorgum sangat memungkinkan dan sorgum mempunyai potensi untuk dikembangkan pada masa mendatang karena : 1. Kebutuhan terhadap bahan pangan yang semakin besar sejalan dengan meningkatnya jumlah penduduk. 2. Meningkatnya kesejahteraan akan meningkatkan kebutuhan terhadap protein hewani, dalam hal ini sorgum menjadi bahan pakan bagi hewan dan harganya lebih murah dibandingkan dengan biji-bijian lain. 3. Sorgum dapat digunakan untuk produk industri seperti pati, gula, roti, biskuit, dan mie. 4. Sorgum lebih toleran terhadap cekaman abiotik dan dapat dibudidayakan dengan hasil cukup baik di lahan atau musim dimana tanaman lain seperti jagung dan padi tidak dapat tumbuh dan berproduksi. Menyusutnya lahan-lahan pertanian di Indonesia menyebabkan usaha peningkatan produksi sorgum sulit dilakukan. Potensi lahan Pertanian yang semakin menyusut tersebut dapat digantikan dengan penggunaan varietas yang tepat, namun pada umumnya lahan di Indinesia, khususnya Sumatera Barat didominasi oleh tanah-tanah masam seperti ultisol, podsolik merah, kuning, dan latosol dengan tingkat kesuburan yang rendah. Tingkat kemasaman tanah Ultisol yang tinggi menyebabkan beberapa unsur hara seperti fosfor, kalsium, dan kalium tidak tersedia bagi tanaman. Selain itu, beberapa unsur seperti alumunium, mangan, dan besi meningkat kelarutannya sehingga beracun bagi tanaman. Salah satu alternatif untuk mengembangkan sorgum adalah dengan penggunaan varietas toleran. Varietas toleran dapat diperoleh dari kegiatan seleksi pada pemuliaan tanaman dan uji adaptasi di lahan. Sumber keragaman genetik yang sangat penting untuk memulai kegiatan seleksi dapat diperoleh dari koleksi plasma nutfah yang didapatkan dari Maros yang merupakan pusat penelitian dan pengembangan benih dan bank benih Serealia yang terletak di Sulawesi Selatan. Kegiatan seleksi awal dengan mengamati beberapa karakter agronomi untuk toleransi tanah masam dari 24 genotipe koleksi Maros dipilih 10 genotipe sorgum yang toleran pada tanah masam dengan jenis tanah ultisol. Pengujian daya hasil pada tanah ultisol terhadap kesepuluh genotipe tersebut perlu dilakukan sebagai salah satu upaya untuk menghasilkan varietas unggul sorgum yang toleran dan memiliki daya hasil tinggi pada tanah ultisol di Sumatera Barat. Dalam penelitian ini, 10 genotipe ditanam pada lahan kering di Kebun Percobaan Limau Manis Unand, Padang. Genotipe yang masih merupakan galur didapatkan dari Maros yang merupakan pusat penelitian dan pengembangan benih dan bank benih Serealia yang terletak di Sulawesi Selatan. Berdasarkan uraian dan permasalahan di atas serta untuk mengetahui pertumbuhan dan hasil produksi dari tanaman sorgum, maka penulis telah melakukan penelitian dengan judul “Uji Daya Hasil Beberapa Genotipe Sorgum (Sorghum bicolor. L) Pada Tanah Ultisol Di Limau Manis”.

Item Type: Thesis (Diploma)
Subjects: S Agriculture > S Agriculture (General)
Divisions: Fakultas Pertanian
Depositing User: Ms Lyse Nofriadi
Date Deposited: 25 Feb 2016 02:31
Last Modified: 25 Feb 2016 02:31
URI: http://scholar.unand.ac.id/id/eprint/1827

Actions (login required)

View Item View Item