PELAKSANAAN DIVERSI TERHADAP ANAK SEBAGAI PELAKU TINDAK PIDANA PENGANIAYAAN BIASA PASAL 351 PADA TINGKAT PENYIDIKAN DI POLRESTA SOLOK

Novaldo Indra, Putra (2022) PELAKSANAAN DIVERSI TERHADAP ANAK SEBAGAI PELAKU TINDAK PIDANA PENGANIAYAAN BIASA PASAL 351 PADA TINGKAT PENYIDIKAN DI POLRESTA SOLOK. Diploma thesis, Universitas Andalas.

[img] Text (Cover dan Abstrak)
Cover dan Abstrak.pdf - Published Version

Download (70kB)
[img] Text (Bab I Pendahuluan)
Bab I.pdf - Published Version

Download (394kB)
[img] Text (Bab IV Penutup)
Bab IV.pdf - Published Version

Download (150kB)
[img] Text (Daftar Pustaka)
Daftar Pustaka.pdf - Published Version

Download (229kB)
[img] Text (Skripsi Full Text)
Skripsi Full.pdf - Published Version
Restricted to Repository staff only

Download (1MB)

Abstract

ABSTRAK Hukum pidana yang saat ini berlaku di Indonesia merupakan hukum warisan penjajahan Belanda yang berdasarkan asas konkordansi. Secara yuridis formal diberlakukan di Indonesia berdasarkan Undang-undang Nomor 1 Tahun 1946 Tentang Peraturan Hukum Pidana yang dimana merupakan penegasan untuk berlakunya Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP). Dalam penerapannya hukum pidana dapat memberikan dampak positif seperti memberikan rasa aman dan juga dampak negatif seperti mendapatkan modus operandi baru dalam melakukan tindak pidana. Anak jika melakukan tindak pidana maka akan mendapatkan dampak negatif. Untuk melindungi anak dari dampak negatif pemidanaan, pemerintah telah membentuk Undang-undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak selanjutnya disebut UU SPPA. Substansi mendasar yang diatur dari UU SPPA adalah ditegaskannya tentang keadilan restoratif dan konsep diversi. Konsep diversi adalah suatu aturan baru yang ada pada UU SPPA yang bertujuan untuk menghindarkan anak dari dampak negatif pemidanaan. Pada kenyataanya ada beberapa kasus tindak pidana ada yang berhasil diupayakan diversi dan mencapai kesepakatan serta ada juga yang telah diupayakan diversi tetapi belum mencapai kesepakatan. Hal ini terlihat dari beberapa kasus yang masuk dalam laporan polisi, pelaksanaannya dilakukan dengan upaya diversi. Menurut pandangan dari penyidik pelaksanaan diversi dapat menjadi pembelajaran bagi anak untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama di masa depan serta melindungi hak-hak anak untuk tumbuh dan berkembang sehingga berguna bagi nusa dan bangsa. Oleh karena itu, penulis tertarik untuk mengkaji lebih dalam tentang pelaksanaan upaya diversi terhadap anak yang melakukan tindak pidana penganiayaan di Polresta Solok. Adapun permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana pelaksanaan diversi pada tingkat penyidikan terhadap anak sebagai pelaku tindak pidana penganiayaan biasa dan kendala-kendala apa saja yang ditemui oleh penyidik dalam pelaksanaan upaya diversi. Penelitian ini menggunakan tipe penelitian yuridis empiris dengan sifat penelitian deskriptif. Untuk data yang diperlukan bersumber dari data primer dan data sekunder yang diambil dari studi terhadap dokumen dan wawancara di Polresta Solok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan upaya diversi terhadap anak yang melakukan tindak pidana penganiayaan telah dilaksanakan, ada kasus yang berhasil mencapai kesepakatan untuk berdamai dan ada juga kasus yang gagal mencapai kesepakatan, kendala-kendala yang ditemui oleh pihak penyidik dalam pelaksanaan upaya diversi seperti tuntutan keluarga korban terhadap pelaku, pelaku dilarikan oleh pihak keluarga, dan ketidakpercayaan masyarakat dengan dibelakukannya diversi terhadap anak yang melakukan tindak pidana. Kata Kunci : Diversi, Penyidikan, Penganiayaan, Anak sebagai pelaku

Item Type: Thesis (Diploma)
Primary Supervisor: Efren Nova, S.H., M.H
Subjects: K Law > K Law (General)
Divisions: Fakultas Hukum
Depositing User: S1 Ilmu Hukum
Date Deposited: 31 Aug 2022 03:58
Last Modified: 31 Aug 2022 03:58
URI: http://scholar.unand.ac.id/id/eprint/111718

Actions (login required)

View Item View Item